Selasa, 24 Januari 2012

UAS Simantic web Ontologi akademik

Ontologi akademik

nama class unisbank terdiri dari

dosen
fakultas
karyawan
mahasiswa
matakuliah
untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

http://bosshe.com/wp-content/uploads/2012/01/utama-300x187.jpg
http://bosshe.com/wp-content/uploads/2012/01/dosen-300x187.jpg
http://bosshe.com/wp-content/uploads/2012/01/fakultas-300x187.jpg
http://bosshe.com/wp-content/uploads/2012/01/karyawan-300x187.jpg
http://bosshe.com/wp-content/uploads/2012/01/matakuliah-300x187.jpg

Kamis, 19 Januari 2012

BAB 1 AKS

BAB 1 PENDAHULUAN - HAL 1 DARI 12
Susun!
1. DEFENISI
Defenisi Kinerja
Terdapat beberapa badan standar yang mengeluarkan defenisi kinerja, antara lain :
1. Standar industri Jerman DIN55350
Kinerja terdiri dari semua karakteristik dan aktivitas penting yang dibutuhkan dalam suatu produksi, yang meliputi perbedaan kuantitatif dan kualitatif produksi atau aktivitas keseluruhan.
2. Standar ANSI (ANSI/ASQC A3/1978)
Kinerja adalah gambaran dan karakteristik produksi keseluruhan atau pelayanan yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan.
3. Standar IEEE untuk kinerja perangkat lunak (IEEE Std 729 - 1983)
Kinerja adalah tingkatan untuk memenuhi kombinasi perangkat lunak yang diinginkan.
Secara umum dapat didefenisikan sebagai semua karakteristik dan aktifitas penting yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan yang akan dicapai.
Defenisi dan Konsep Dasar
Istilah kinerja (performance) mengacu pada pelayanan yang disediakan oleh orang atau mesin untuk siapapun yang memerlukannya. Suatu sistem pemroses informasi adalah sekumpulan komponen perangkat keras dan perangkat lunak yang memiliki kemampuan untuk memproses data melalui program-program yang ditulis. Dengan demikian istilah kinerja untuk suatu sistem yang memproses informasi adalah merupakan fasilitas-fasilitas yang dapat tersedia untuk dimanfaatkan yang meliputi bahasa pemrograman, utiliti yang digunakan untuk mendesain dan pengembangan program, utiliti pemrosesan, feature untuk memperbaiki kegagalan dan sebagainya.
Kinerja (performance) terdiri dari indeks-indeks yang dapat melambangkan kemudahan, kenyamanan, kestabilan, kecepatan dan lain-lain. Setiap indeks memiliki kuantitas dan kemudian menjadi obyek evaluasi. Suatu indeks performance dapat dievaluasi dengan berbagai cara, antara lain :
• Dapat diukur (measured)
• Dapat dihitung (calculated)
• Dapat diperkirakan (estimated)
ANALISIS KINERJA SISTEM
Tanggal :
Lokasi : BAB 1 PENDAHULUAN - HAL 2 DARI 12
Susun!
Evaluasi tersebut merupakan kuantitatif (=sesuatu yang dapat dijabarkan dalam angka). Namun demikian banyak faktor dari sistem yang dipilih adalah merupakan kualitatif yang sukar untuk dikuantisasi.
2. TUJUAN EVALUASI
Evaluasi diperlukan untuk memberi gambaran apakah suatu kinerja sistem yang ada, sudah sesuai dengan yang dibutuhkan serta sesuai dengan tujuan.
Aplikasi teknik evaluasi dapat diklasifikasikan dalam empat kategori :
1. Procurement, seluruh masalah evaluasi yang dipilih dari sistem atau komponen-komponen sistem (yang ada pada sistem atau pun alternatifnya).
2. Improvement, meliputi seluruh masalah kinerja yang timbul pada saat suatu sistem sedang bekerja.
3. Capacity Planning, terdiri dari masalah yang berhubungan dengan prediksi kapasitas sistem di masa yang akan datang.
4. Design, Seluruh masalah yang harus dibuat pada saat akan menciptakan suatu sistem yang baru.
3. SISTEM REFERENSI
Untuk memberi gambaran pendekatan dalam sistem yang akan diobservasi dalam evaluasi kinerja, maka digunakan sustu sistem acuan (referensi). Konfoigurasi sistem yang digunakan sebagai sistem referensi antara lain :
1. Uniprogrammed Batch-processing References System (UBRS). Pada sistem ini model batch processing digunakan dan resources utamanya diatur oleh pemrograman tersendiri.
2. Multiprogrammed Batch-processing References System (MBRS). Teknik ini mewakili adanya pemrosesan dari suatu aktivitas yang overlapping (secara bersamaan memenuhi sistem. Dalam sistem ini aktivitas CPU (SPOOL=simultanous processing operation online), aktivitas channel dapat overlap.
3. Multiprogrammed Interactive Reference System (MIRS). Karakteristiknya adalah adanya interaktif terminal dimana user dapat berhubungan (converse) dengan sistem, yang disebut dengan interactive transaction.
4. Multiprogrammed Interactive Vrtual Memory Reference System (MIVRS). User dapat memprogram di dalam ruang alamat memori secara virtual yang berbeda dengan sistem memori aktual.
ANALISIS KINERJA SISTEM
Tanggal :
Lokasi : BAB 1 PENDAHULUAN - HAL 3 DARI 12
Susun!
4. INDEKS KINERJA
Level Evaluasi kinerja :
Ketiga level di atas memiliki tujuan yang sama, yaitu membuat operasional sistem menjadi efisien, namun problem yang dihadapi di masing-masing level akan dilihat dari sudut yang berbeda.
1. Desainer Sistem (perangkat keras/ Perangkat lunak), tugas :
a. Harus selalu menjaga/memikirkan jangkauan sistem aplikasi yang mungkin digunakan.
b. Memperhatikan penggunan/pemanfaatan sistem komputer yang mempengaruhi kerja beberapa variabel seperti : waktu akses memori, kecepatan CPU, pengorganisasian program dan basis data, algoritma lokasi memori.
c. Obyek bagi indeks internal
2. Manajer Instalasi, tugas :
a. Lebih memperhatikan keseimbangan (balance)
b. Cost effective yang digunakan komponen sistem.
c. Memilih banyak layanan yang memuaskan untuk banyak user.
d. Mengatur penggantian fasilitas yang digunakan.
e. Obyek bagi indeks internal
3. Analis dan programmer, tugas :
a. Lebih berkonsentrasi pada lingkup pekerjaan pemrograman secara operasional.
b. Dapat mempempengaruhi secara langsung terhadap bermacam-macam sumber beban (seperti CPU, periferal, memori dan lain-lain)
Desainer Sistem (hw/sw)
Level 1
Manajer Instalasi Level 2
Analis dan Programmer Level 3
ANALISIS KINERJA SISTEM
Tanggal :
Lokasi : BAB 1 PENDAHULUAN - HAL 4 DARI 12
Susun!
c. Mengevaluasi proses agar efisien dalam waktu dan efisien dalam harga.
d. Obyek bagi indeks eksternal
Skema dari suatu studi evaluasi kinerja :
ANALISIS KINERJA SISTEM
ya
Selesai
tidak
Modifikasi sistem atau model
Buat Perencanaan Verifikasi sistem secara periodik
Tujuan tercapai ?
Memilah data dan interpretasi hasil pengukuran
Membuat model atau sistem pengukuran dan beban kerja (workload)
Defenisi Indeks kinerja dan variabel yang akan dievaluasi
Beban (workload) dari sistem
Data dari sistem
Defenisi Tujuan (objective)
Mulai
Tanggal :
Lokasi : BAB 1 PENDAHULUAN - HAL 5 DARI 12
Susun!
Nilai-nilai variabel yang dibutuhkan dalam kegiatan evaluasi kinerja sistem adalah :
1. Karakteristik sistem fisik
Variabel ini berisi :
a. informasi mengenai konfigurasi sistem perangkat keras dan perangkat lunak (ukuran memori, jumlah channel dan kapasitas disk, lokasi file sistem, BIOS).
b. Operasi bermacam komponen (CPU, tipe channel, waktu akses disk, dan lain-lain).
2. Kondisi operating sistem
Terdiri dari penggambaran beban yang akan dievaluasi (seperti workload melalui pendekatan probabilistik).
3. Indeks kinerja sistem
a. Klasifikasi indeks kinerja terbagi menjadu dua yaitu indeks internal (mengukur kegunaan masing-masing komponen sistem) dan indeks eksternal (mengevalusai secara eksternal terhadap proses sistem agar efisien).
b. Indeks internal memanfaatkan orang-orang pada level 1 dan level 2.
c. Indeks eksternal memakai orang-orang pada level 3 yaitu dilihat dari sisi pengguna akhir yang terlibat langsung (user).
Tabel indeks Kinerja
Indeks eksternal
Indeks Internal
Turn around time
CPU Utilization
Response time
Overlap of activities
Throughput
Faktor multiprogramming
Capacity
Level multiprogramming
Availability
Paging rate
Realibility
Reaction time
1. Turnaround time
Defenisi :
• Interval waktu antara program yang siap menjalankan sejumlah proses sistem (secara batch processing) sampai dengan eksekusi berakhir.
• Merupakan indeks kinerja yang sensitif untuk mengetahui efisiensi pemrosesan.
ANALISIS KINERJA SISTEM
Tanggal :
Lokasi : BAB 1 PENDAHULUAN - HAL 6 DARI 12
Susun!
Rumus :
Turnaround time = P * R
R = Waktu pembacaan program
P = Waktu pencetakan selesai
CPU
CPU or I/O CPU I/O or I/O
CPU Wait Wait Wait Wait
t
R P
Start End
Eksekusi Eksekusi
Stand alone processing time
Processing time
Turnaround time
Eksternal turnaround tima
Gambaran karakteristik waktu proses suatu program dalam sistem MBRS (Multiprogrammed Batch-processing References System)
Mean Turnaround time
1 n
Tm = ----- Ó (Pi – Ri)
n i=1
n = Banyaknya program
ANALISIS KINERJA SISTEM
Tanggal :
Lokasi : BAB 1 PENDAHULUAN - HAL 7 DARI 12
Susun!
Eksternal Turnaround time
Defenisi :
• Waktu interval antara program yang diajukan user sampai dengan hasil yang diterimanya.
• Meliputi waktu yang diperlukan untuk operasi manual, baik manual input maupun manual output.
Stand-alone Turnaround time atau processing time (Tp)
Definisi : Waktu Turnaround ketika hanya sistem program yang berjalan.
Weighted Turnaround time (Tw)
Defenisi : Perbandingan antara Turnaround time (T) dengan processing time (Tp).
Rumus :
T
Tw = -----
Tp
Mean Weighted Turnaround time (Twm)
Defenisi : Jika n pada mean turnaround time kecil, maka defenisi pada rumus Mean Turnaround Time menjadi kurang akurat untuk menentukan efisiensi proses, sehingga digunakan defenisi ini.
Rumus :
1 n
Twm = ----- Ó Twi
n i=1
ANALISIS KINERJA SISTEM
Tanggal :
Lokasi : BAB 1 PENDAHULUAN - HAL 8 DARI 12
Susun!
Contoh :
Kasus 1
Misalkan sebuah pemrosesan dari program A, B dan C dalam sistem UBRS, dapat terlihat pada tabel di bawah ini :
Program Time
Processing time
(menit)
Arrival sequence
(waktu kedatangan)
A
30
Pada waktu 0
B
55
Setelah 5 menit
C
5
Setelah 10 menit
Dari kondisi di atas, carilah T, Tm, Tw dan Twm dengan algoritma penjadwalan :
• FCFS (First Come First Serve)
• SJF (Short Job First)
• Future Knowledge
• FCFS (First Come First Serve) pada sistem MBRS
Jawab :
a. FCFS (First Come First Serve) :
T
Tw
A
30
1
Tm = 63
B
80
1.4
Twm = 6.1
C
80
16
b. SJF (Short Job First)
T
Tw
A
30
1
Tm = 46.6
B
85
1.5
Twm = 2.5
C
25
5
ANALISIS KINERJA SISTEM
..
Catatan
Algoritma Penjadwalan dapat ditemukan pada Mata kuliah Sistem Operasi
Tanggal :
Lokasi :
BAB 1 PENDAHULUAN - HAL 9 DARI 12
Susun!
c. Future Knowledge
T
Tw
A
45
1.5
Tm = 48
B
95
1.7
Twm = 1.4
C
5
1
d. FCFS (First Come First Serve) pada sistem MBRS
T
Tw
A
60
2
Tm = 53.3
B
85
1.5
Twm = 2.1
C
15
3
ANALISIS KINERJA SISTEM
Tanggal :
Lokasi : BAB 1 PENDAHULUAN - HAL 10 DARI 12
Susun!
2. Response time (waktu tanggap)
Defenisi : Interval waktu antara perintah input yang siap untuk terminal sistem sampai dengan adanya tanggapan kembali pada terminal.
Komponen dari response time (perintah diasumsikan tidak untuk menghasilkan output selama eksekusi)
3. Througput (atau Produktivitas)
Defenisi : Jumlah atau banyaknya pekerjaan yang dapat dilakukan dalam satuan waktu tertentu.
Ekspresi nilainya dengan cara :
• Jumlah program yang diproses per satuan waktu
• Jumlah data yang diproses per satuan waktu
• Jumlah transaksi yang diproses per satuan waktu
Sistem throughput biasanya lebih merupakan nilai teoritis daripada kemampuan yang tersedia (capacity).
Rumus :
X = Nilai throughput
ANALISIS KINERJA SISTEM
Np
X = -----
ttot
I/O CPU
CPU or I/O CPU or I/O
CPU Wait Wait Wait Wait
t
Send Start
Command Output
Stand alone response time
Response time
Interaction time
Tanggal :
Lokasi : BAB 1 PENDAHULUAN - HAL 11 DARI 12
Susun!
Np = Jumlah program yang dieksekusi
ttot = Total waktu yang ditempuh
Throughput mempengaruhi beberapa faktor :
• Karakteristik workload (beban kerja) yang akan dievaluasi
• Karakteristik perangkat keras dan perangkat lunak sistem
• Kemungkinan digunkana overlapping untuk banyak komponen
• Algoritma yang digunakan
• Kecepatan perangkat keras dan perangkat lunak sistem
4. Capacity
Defenisi : Nilai maksimum teoritis sistem throughput yang dapat dijangkau.
5. Availability
Defenisi : Prosentasi total waktu sistem yang diselesaikan user.
6. Realiability
Defenisi : Konsistensi dalam mendapatkan nilai tertentu dalam proses yang dilakukan secara berulang-ulang
7. CPU Utilazation
Defenisi : Prosentasi waktu operating system selama CPU aktif
8. Overlap
Defenisi : Prosentasi waktu respon operating system selama dua atau tiga sumber yang selalu sibuk, digunakan untuk sistem multiprogramming.
9. Paging Rate
Defenisi : Indeks yang tipikal ada pada sistem yang memanfaatkan memori virtual, berkenaan dengan kemampuan menyimpan elemen-elemen program yang merupakan beban kerja yang tidak terdapat pada memori utama.
10. Reaction Time
Defenisi : waktu sistem untuk bereaksi yang dihitung dari waktu pemberian perintah eksternal.
11. Multiprogramming Strech factor
Defenisi : indeks untuk mengevaluasi pengaruh multiprogramming pada waktu turn around program.
12. Multiprogramming Level
Defenisi : Jumlah program yang dieksekusi dalam waktu yang bersamaan.
ANALISIS KINERJA SISTEM
Tanggal :
Lokasi : BAB 1 PENDAHULUAN - HAL 12 DARI 12
Susun!
Hubungan antara throghput (kapasitas) dengan beban kerja :
Hubungan antara Througput dengan response time pada sistem MIRS (Multiprogrammed Interactive Reference System) :
5. TEKNIK EVALUASI
Metode Evaluasi :
1. Teknik pengukuran (measurement/empiris) : Merupakan pengukuran langsung pada sistem yang akan dievaluasi pada sistem yang telah ada atau telah tersedia.
2. Teknik model (modelling) : Pengukuran dengan menggunakan model dari sistem yang akan dievaluasi, terdiri dari 2 macam :
• Teknik Simulasi : Mengukur aspek kinerja dinamis dengan mereproduksi keadaannya.
• Teknik Analitik : Lebih melakukan pendekatan pengukuran secara matematis.
ANALISIS KINERJA SISTEM
Theorytical capacity
Practical capacity
Througput
Beban kerja
System capacity
Thro

BAB 2 AKS

BAB 2 TEKNIK PENGUKURAN - HAL 1 DARI 23
ANALISIS KINERJA SISTEM
1. DEFINISI
Dalam setiap ilmu pengetahuan, pengukuran menghasilkan deskripsi
kuantitatif dari suatu proses dan produk yang membuat kita memahami
tingkah laku dan hasil. Dan akan semakin berkembang jika kita memilih
teknik dan utilitas yang lebih baik untuk mengendalikan dan memaksimalkan
kinerja suatu proses, produk dan resources (sumber) yang ada. Karena seorang
engineer tidak dapat dikatakan sebagai engineer sejati, sampai kita dapat
membangun pondasi yang solid untuk mengukur berbasiskan teori. (Pfleeger
et al., 1997).
Lord Kelvin
Ketika kalian dapat mengukur apa yang kalian katakan dan
mengekspresikannya dalam angka-angka, maka kalian mengetahui
sesuatu tentang itu. Tetapi jika kalian tidak dapat mengukur dan
mengekspresikan sesuatu dengan angka-angka, pengetahuan tersebut
tidak lengkap dan belum mencukupi dengan baik.
J. C. Maxwell
Mengukur berarti mengetahui
Krantz et al, 1971
Pengukuran adalah memetakan obyek empirik ke obyek angka-angka
dengan perubahan yang setara.
Teori Pengukuran :
Pengukuran berarti perubahan yang setara antara area empirik dan
barisan angka-angka tertentu.
Definisi Pengukuran menurut Pflanzagl's ( ) :
Pengukuran adalah proses menyebutkan dengan pasti angka-angka tertentu
(misalnya entiti matematik untuk mewakili isi sebuah vektor), untuk
mendeskripsikan suatu atribut empirik dari suatu produk atau kejadian
dengan ketentuan tertentu.
Pengukuran menurut Ellis (1966) melalui (Carnahan, 1997)
Pengukuran adalah penyebutan dengan pasti secara numerik terhadap
sesuatu, termasuk untuk setiap urutan yang sudah pasti dan aturan
non degenerate.
Tanggal :
Lokasi :
Susun!
BAB 2 TEKNIK PENGUKURAN - HAL 2 DARI 23
ANALISIS KINERJA SISTEM
Dari (Bill, 1980) melalui Steven (1984).
Proses pengukuran adalah proses memetakan properti atau hubungan
empiris ke model formal. Pengukuran dimungkinkan dengan adanya
isomorphism antara :
o Hubungan empiris diantara properti suatu obyek dan kejadian
yang ada padanya.
o Properti dari model formal yang terdiri dari angka dan
perubahan operator.
Mengukur (IEEE, 1993) :
Suatu jalan untuk memastikan dan memberitahukan suatu nilai dengan
cara membandingkannya dengan suatu standar, untuk
mengaplikasikan suatu metrik (cara dan metode pengukuran).
Pengukuran (IEEE, 1993):
Tindakan melakukan proses mengukur : gambaran, tingkatan atau
jumlah yang dapat dihasilkan dari mengukur.
Pfleeger et al., (1997):
Mengukur adalah pemetaan sederhana dari suatu kenyataan, dunia
empiris ke dunia matematik, dimana kita dapat lebih mudah dalam
memahami atribut dari entiti dan relasi masing-masiong entiti tersebut
dengan entiti lainnya. Kesulitannya adalah bagaimana kita dapat
menginterpretasikan perilaku matematik dan mengartikannya dalam
dunia nyata kembali secra tepat.
Pengukuran: (Fenton, 1994)
Pengukuran adalah pendefinisian suatu proses dengan angka atau
simbol-simbol yang menjelaskan dengan pasti atribut suatu entiti di
dunia nyata sesuai dengan aturan tertentu yang didefinisikan
sebelumnya.
2. PRINSIP DASAR PENGUKURAN
Margenau (1950 ) menyatakan bahwa berbagai macam disiplin ilmu
dapat diklasifikasikan berdasarkan dari tingkat pendekatan analisis terhadap
teori penyusunnya, bukan berdasarkan hubungan secara langsung satu sama
lain. Seperti yang Torgerson (1958) nyatakan, dia amat mempercayai bahwa
“ilmu pengetahuan dapat menjadi semakin berkembang jika diklasifikasikan
Tanggal :
Lokasi :
Susun!
BAB 2 TEKNIK PENGUKURAN - HAL 3 DARI 23
ANALISIS KINERJA SISTEM
dalam tingkatan dengan pengukuran yang dapat mewakili variabel penting
daripadanya.
Dalam studi sistem komputer, baik pada saat perancangan maupun
pada saat telah beroperasi membutuhkan teknik-teknik pengukuran untuk
menentukan kinerja sistem. Secara bahasa defenisi mengukur sistem adalah
suatu kegiatan mengumpulkan informasi tentang aktivitas sistem ketika sistem
tersebut sedang melayani para penggunanya, baik itu pengguna nyata maupun
pengguna yang dihasilkan dengan teknik simulasi.
Pengukuran dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang atribut dari suatu
entitas pada suatu sistem.
• Entitas dapat berupa obyek, termasuk orang atau spesifikasi
perangkat lunak, atau kejadian dalam fase pengetesan pada proyek
perangkat lunak
• Attribut adalah karakteristik properti dari entitas yang sedang
diselidiki.
Ini berarti, bahwa kita disebut mengukur jika kita mengukur atribut dari
sesuatu. Pengukuran harus dapat membuat kita dapat menyebutkan dengan
pasti dalam bentuk angka-angka dan simbol dari suatu atribut entitas yang
dideskripsikan tersebut. Angka-angka sangat berguna dan sangat penting
dalam meringkas sesuatu. Dan mengukur itu tidak hanya sekedar angka-angka
saja, tapi juga mendefinisikan pemetaan entitas dan atribut dalam bentuk
pertanyaan.
Perbedaan antara ilmu pengetahuan yang "well developed"
seperti fisika dengan ilmu pengetahuan yang "less well
developed" seperti psikologi atau sosiologi adalah dari
sudut bagaimana kita dapat melakukan pengukuran
terhadapnya. (Robert, 1979)
Dalam ilmu pengetahuan well developed, gagasan dapat didefinisikan
dalam istilah yang berhubungan satu sama lain dengan persamaan formal.
Model hubungan dapat dibangun antara teori ketika beberapa gagasan dapat
dioperasikan untuk mendefinisikan istilah-istilah data yang diobservasi.
Hubungan antara operasi di dalamnya didefinisikan dengan korelasi atau
koefisien regresi. Sedangkan pada ilmu pengetahuan less developed,
hubungan antara teori dan operasi tidak perlu didefinisikan dalam basis
matematik formal, tetapi pada landasan dugaan logika, dan hubungan antara
operasi yang ada di dalamnya didefinisikan dalam argumentasi verbal.
Teori pengukuran menyediakan lingkup formal untuk melakukan
pengukuran. Ini mendefinisikan proses pengukuran sebagai suatu fungsi
Tanggal :
Lokasi :
Susun!
BAB 2 TEKNIK PENGUKURAN - HAL 4 DARI 23
ANALISIS KINERJA SISTEM
matematika. Hal tersebut memungkinkan untuk menentukan apakah suatu
operasi matematika yang tepat dapat berarti dalam pengukuran yang
dilakukan atau tidak – ini sangat penting dalam penentuan skala pengukuran.
Banyak orang mengukur dalam lingkup ilmu-ilmu sosial dapat melihat
pemahaman dari teori pengukuran, tapi tidak dapat mengukur secara
keseluruhan atau dengan kata lain, suatu pengukuran terbaik adalah
pengukuran yang didapatkan berdasarkan pengalaman dalam melakukan
analisis statistik (Russsel, 1990).
Tom de Marco
Kalian tidak dapat mengendalikan apa yang tidak dapat kalian ukur.
Aktivitas pengukuran harus memiliki obyektif atau tujuan yang jelas. Dan
harus pula dapat menetapkan dengan pasti entitas dan atribut yang harus
diukur.
Untuk mengukur sesuatu, kita mesti mengetahui apa saja entitas yang akan
diukur dan harus memiliki banyak kemungkinan atribut (property) apa saja
yang terdapat dalam suatu entitas tersebut, agar dapat dirumuskan dengan
tepat dalam bentuk angka-angka.
Pengukuran dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori besar, yaitu :
1. Pengukuran yang diminta oleh sebuah user sistem.
Semua pengukuran yang berfokus pada pemanfaatan sumberdaya
sistem yang dilaksanakan untuk mengevaluasi kinerjanya,
mengontrol pemanfaatannya dan merencanakan tambahan
sumberdaya baru.
2. Pengukuran yang diisyaratkan oleh sistem itu sendiri.
Ukuran yang digunakan oleh sistem tersebut untuk mengatur dirinya
sendiri, agar dapat membuat sistem tersebut beradaptasi secara
dinamis ke dalam faktor-faktor yang mengkondisikan aktivitasnya
(terutama beban kerja/workload)
Hasil pengukuran tersebut akan memberikan kesempatan kepada
sistem untuk mempertahankan suatu tingkat kinerja eksternal yang memadai
(contohnya tinjauan periodik tentang prioritas program berdasarkan
pemanfaatan program CPU, analisis penggunaan page terbanyak yang dapat
dilakukan)
Tanggal :
Lokasi :
Susun!
BAB 2 TEKNIK PENGUKURAN - HAL 5 DARI 23
ANALISIS KINERJA SISTEM
3. DETEKSI KEJADIAN
Even Perangkat Lunak (Software Event)
Ketika sebuah even (kejadian) diasosiasikan dengan sebuah fungsi program,
dapat dikatakan bahwa sistem tersebut berkolerasi dengan perangkat lunak
(software event). Kejadian jenis ini terjadi saat suatu program mencapai
tingkat eksekusi tertentu (misalnya ketika operasi I/O dimulai).
Prinsip deteksi even perangkat lunak adalah dengan melakukan pemasukan
kode-kode khusus (seperti kode jebakan, kode pancingan) dalam tempattempat
spesifik pada sistem operasi.
Even Perangkat Keras (Hardware Event)
Ketika sebuah even (kejadian) diasosiasikan dengan perangkat keras
(hardware event), deteksi dilakukan berdasarkan penampakan suatu sinyal
tertentu dalam sirkuit-sirkuit sebuah komponen sistem. Banyak even
perangkat keras dapat dikenali melalui perangkat lunak, karena even-even
tersebut disertai dengan sejumlah modifikasi lokasi memori yang merupakan
even perangkat lunak.
Sistem Relasional
Proses pengukuran adalah proses untuk mengasosiasikan simbol
dengan suatu obyek berdasarkan properti obyek tersebut. Asosiasi tersebut
harus dapat dinyatakan sebagai suatu pemetaan hubungan empiris terhadap
hubungan formal.
Sistem relasional (Roberts, 1979) dapat direpresentasikan dengan tuple :
dimana A adalah obyek yang tidak kosong dan Ri adalah relasi pada A. Untuk
beberapa kasus S dapat saja tidak terdefinisikan dengan baik.
Sistem Relasi Empiris
Dalam sistem relasi empiris, A adalah obyek tidak kosong dari sistem yang
akan diukur. Ri adalah ki-ary dalam relasi empiris pada A dengan i = 1, ..., n,
Sebagai contoh, relasi empiris "sama dengan” or "lebih kompleks dari". Oj , j
= 1, ... , m adalah operasi biner pada obyek empiris A yang akan diukur.
Kita mengasumsikan untuk sistem relasional empiris A haruslah dapat
menentukan interpretasi empiris untuk elemen A dan untuk setiap relasi Si dari
Tanggal :
Lokasi :
Susun!
BAB 2 TEKNIK PENGUKURAN - HAL 6 DARI 23
ANALISIS KINERJA SISTEM
A. Kita juga mengasumsikan sama untuk operasi biner. Sistem relasi empiris
mendeskripsikan bagian dari kenyataan yang dibawa dalam proses
pengukuran (melalui set terhadap obyek A) dan pengetahuan empiris pada
atribut obyek yang akan kita ukur (melalui pengumpulan relasi empiris Ri).
Tergantung pada atribut yang akan kita ukur kita dapat menggunakan relasi
yang berbeda.
Operasi biner dapat menunjukkan kasus pada obyek yang dioperasikan
secara ternary. Ini sangat penting pada setiap sistem empiris yang tidak
mengandung eferensi untuk mengukur atau pun angka tertentu. Hanya bentuk
"kualitatif" yang ditegaskan untuk mendasari pemahaman terhadap atribut
yang kita pilih (Brian, 1996) . Statemen ini dapat ditranslasikan ke dalam
relasi formal yang dijelaskan di bawah ini.
Formal Relational Sistem.
Dalam formal relational system, B adalah obyek formal yang diset
dengan himpunan tidak kosong, sebagai contoh angka vektor, Si , i = 1 , ... , m,
adalah relasi ki-ary pada B serupa dengan "lebih besar sama dengan " or
"sama dengan" or "lebih besar". Pk , k = 1, ..., m, sangat dekat dengan operasi
biner pada B yang dikenai operasi penambahan dan perkalian.
Formal relational sistem mendeskripsikan (melalui set B) domain dari
pengukuran untuk mempelajari atribut dari suatu obyek. Misalnya, pada
sistem ini bisa berupa integer, real, vector dari integer, dan sebagainya.
Formal relational sistem juga mendeskripsikan (melalui pengumpulan relasi
Sis) relasi yang menarik di antara bagian-bagian yang diukur tersebut.
Hubungan anatara relasi empiris sistem disusun berdasarkan pengukuran
seperti di bawah ini :
Mengukur ì adalah memetakan (Zuse, 1990)
kemudian yang demikian itu diikuti dengan penggabungan semua i = 1, ... , n;
j = 1, ... , m untuk semua a, b, a1i, ..., aki elemen A; It yields for every
empirical object element A a formal object (measurement value) ì(a) element
B.
Tanggal :
Lokasi :
Susun!
BAB 2 TEKNIK PENGUKURAN - HAL 7 DARI 23
ANALISIS KINERJA SISTEM
dan
maka tripple(A, B, ì) disebut skala
Kuantitas
Nilai Kuantitas (Value of quantity (VIM))
Besaran kuantitas suatu bagian yang terdapat pada unit
pengukuran yang dijabarkan dalam angka.
Proses untuk mendefinisikan kuantitas, unit dan skala tertentu. Salah satu
level untuk mempertimbangkan suatu pengukuran. Deskripsi nilai yang diukur
belum valid tanpa menspesifikasikan kuantitas yang daiukur tersebut.
Nilai Hasil ukuran (Measured value (MV))
Numerik yang dihasilkan dari aplikasi yang
menggunakan metode pengukuran tertentu untuk
melakukan pengukuran obeyek dalam kuantitas tertentu.
Salah satu karakteristik nilai hasil pengukuran adalah traceablity. Ini
berarti bahwa properti hasil pengukuran atau nilai standar yang dapat
dibandingkan dengan standar referensi nasional maupun internasional
didapat dengan melalui perbandingan yang berkesinambungan yang dapat
dilakukan.
Definisi traceability membutuhkan evaluasi pada suatu ketidakpastian.
Untuk pengukuran pada Teknologi informasi, ketidakpastian sangat sulit
untuk didefenisikan karena terlalu sedikit kuantitasnya. Metode statistik tidak
dapat begitu saja mengaplikasikannya.
Jadi, pada prinsipnya Kuantitas akan menunjuk ke "atribut dari suatu
fenomena, tubuh atau isi yang dapat dibedakan secara jumlah tertentu”. Oleh
karena itu kuantitas membutuhkan spesifikasi, properti yang jelas berbeda
untuk diukur.
Metrologi
Ilmu yang mempelajari tentang pengukuran dan termasuk di
dalamnya semua aspek, teori dan praktek pada lingkup
keilmuan maupun tenknologi
Tanggal :
Lokasi :
Susun!
BAB 2 TEKNIK PENGUKURAN - HAL 8 DARI 23
ANALISIS KINERJA SISTEM
Dalam bidang teknologi informasi, siapa saja dapat didefinisikan dan
menetapkan bit-bit informasi tanpa melakukan pengukuran terhadap devais
tersebut. Tidak ada definisi yang tepat. Pencarian literatur tentang metrik IT
dan peproses pengukuran menghasilkan beberapa ratus ribuan entri, semuanya
berbicara tentang metrik yang meliputi kualitas, ukuran, kompleksitas atau
kinerja dan mekanisme pemilihan, namun amat sedikit yang berdiskusi soal
dasar-dasar fundamental dalam pengukuran.
Representasi Teori Pengukuran
Pengukuran disebut valid jika dapat mencapai kondisi dapat
direpresentasikan . Kalau hal itu ditangkap dalam dunia matematik,
perilakunya harus dapat dirasakan dalam dunia empiris. Untuk pengukuran
yang berkarakteristik atribut yang valid, semua hubungan empiris harus
dinyatakan dalam sistem relasi numerik. Atau dengan kata lain pengukuran
harus homogen dalam satu bentuk tertentu. Kondisi representasi data harus
dapat menghubungkan antara relasi empiris dengan relasi numerik dalam dua
arah (Fenton, 1994 ).
Pernyataan yang dihasilkan dari suatu pengukuran akan berarti jika kebenaran
atau atau ketidakbenaran tidak berubah dalam transformasi yang diizinkan.
Admissible transformation ini adalah transformasi dari suatu bentuk
representasi yang valid ke representasi valid yang lain.
Pengukuran langsung pada atribut yang dimiliki biasanya dilakukan
dengan memahami atribut tersebut secara intuitif (Fenton, 1994). Pemahaman
ini membawa kita dalam mengidentifikasi relasi empiris antara entitas yang
ada. Himpunan entitas C, secara bersama dengan himpunan relasi entitas R,
sering disebut sistem relasi empiris (C, R) untuk atribut. Seperti atribut
“lebar” orang-orang akan memberikan relasi empiris seperti “sama tinggi
dengan”, “lebih tinggi dari”, “jauh lebih tinggi”
Harus pula kita perhatikan pemahaman intuitif untuk atribut Q pada
obyek untuk mengukur secara lanjut tugas-tugas numerik yang diberikan
kepadanya. Pemahaman intuitif ini mencari karakteristik pada relasi empiris R
melalui himpunan C dari obyek yang terukur tersebut. (model formal obyek).
Himpunan C dan R diketahui sebagai sistem relasi empiris untuk atribut Q.
(Fenton, 1992)
Teori Representasi
Jumlah pekerjaan yang terdapat pada proses pengukuran harus dapat
menunjukkan hasil observasi relasi empiris dengan baik. Harus dalam bentuk
pemetaan homomorfik atau isomorfik dari bentuk empiris untuk memilih
sistem numerik. Akan tetapi, teroema ini kurang begitu berguna dalam suatu
Tanggal :
Lokasi :
Susun!
BAB 2 TEKNIK PENGUKURAN - HAL 9 DARI 23
ANALISIS KINERJA SISTEM
latihan prakiraan, sejak empiris sistem tersebut menjadi tidak terbatas dan
tidak dapat dibuat dalam numerik. Setiap sistem empiris harus selalu
mendapatkan sistem numerik untuk dapat melayani pengukuran tersebut.
Teori Unik
Pengukuran adalah unik untuk setiap level transformasi. Teori ini
dapat dibuktikan dengan melihat bentuk pembuktian formal terhadap semua
relasi numerik yang ekuivalen kepada semua relasi empiris untuk semua
bentuk pemetaan yang diizinkan dari sistem empiris dalam numerik atau
sistem pengukuran.
Kondisi Representasi
Untuk mengukur suatu atribut, yang dikarakteristikkan oleh sistem
relasi empiris (C, R) membutuhkan pemetaan M untuk berubah menjadi
sistem relasi numerik (N, P). Khususnya, pemetaan M entitis dalam C ke
angka (atau simbol) dalam N, dan kemudian relasi empiris dalam R dipetakan
ke relasi numerik dalam P, dengan cara inilah semua relasi empiris dapat
dipertahankan. Metode yang disebut kondisi representasi, dan pemetaan M
disebut representasi. Kondisi representasi menegaskan korespondensi antara
relasi numerik dan relasi empiris dalam dua cara. Misalnya, sebagai contoh
relasi biner < akan dipetakan oleh M ke relasi numerik <. Lalu secara formal kita memiliki : Kondisi Representasi : Kemudian seandainya C adalah himpunan orang dan R memiliki relasi "lebih tinggi dari". Pengukuran M dari tinggi akan memetakan C dalam suatu himpunan bilangan real R dan "lebih tinggi dari" ke relasi >. Representasi
akan menegaskan A lebih tinggi dari B, jika M(A) > M(B).
Setiap obyek yang dipetakan dalam nilai B, misalnya, akan diukur
dalam pengukuran m(a). Setiap relasi empiris Ri dipetakan dalam relasi
formal Si. Sebagai contoh, relasi “lebih komples dari”, antara dua program
dipetakan ke dalam relasi ">" di antara pengukuran kompleksitas yang
dilakukan untuk dua macam program. Relasi formal harus dapat
mempertahankan arti pernyataan empiris. Sebagai contoh lagi andai R1 adalah
relasi empiris "lebih kompleks dari", S1 adalah relasi formal dari ">", dan m
adalah pengukuran kompleksitas. Maka kita perlu menyatakan program P1
lebih kompleks dari program P2 jika dan hanya jika m(P1) > m(P2)
Dengan konteks di atas, konsep properti dapa dilihat sebagai suatu
karakteristik properti, untuk setiap konsep pengukuran (seperti rumpun
pengukuran), sistem relasi formal.Properti ini mempertahankan
korespondensisistem relasi empiris ketika sistem relasi formal diperoleh.
Tanggal :
Lokasi :
Susun!
BAB 2 TEKNIK PENGUKURAN - HAL 10 DARI 23
ANALISIS KINERJA SISTEM
Tetapi, himpunan properti dari konsep tersebut tidak sepenuhnya
mengkarakterisikkan sistem relasi formal. Untuk aplikasi pengukuran tertentu,
beberapa properti akan spesifik bekerja dalam lingkungan dan model (yang
ditangkap dari sstem relasi empiris).
Skala dan Transformasi
Skala pengukuran dapat kita nyatakan sebagai suatu aturan tertentu dalam
pengukuran untuk memudahkan pengambilan nilai.
Teori pengukuran sebagai prinsip dasar memiliki banyak jenis skala
pengukuran, seperti nominal, ordinal, interval, rasional dan setiap
pengambilan informasi akan menjadi bagian yang paling dahulu diperhatikan.
Skala nominal meletakkan item dalam kategori tertentu. Skala ordinal
memilih tingkatan-tingkatan item dalam antrian.
Interval dari skala didefinisikan sebagai jarak antara satu poin ke poin
lainnya, yang harus sama. Untuk skala ordinal properti ini tidak tersedia,
begitu juga untuk perhitungan mean-nya. Jadi, pada dasarnya tidak ada poin
absolut dalam skala interval ini.
Skala harus berisi banyak informasi dan fleksibel dalam skala rasio
seperti derajat nol mutlak, rasio pemeliharaan dan mengizinkan analisis dari
pengalaman yang ada.
Kategori Skala :
• Simbol (nominal data)
• Numerik (ordinal, interval, dan ratio absolute)
Petimbangkan sistem relasional empiris :
Terdiri dari himpunan program {P1, P2, P3} dan relasi >> (lebih besar dari).
Lalu jika P1 >>P2 dan P2 >>P3, skala akan memetakan P1 ke nilai yang lebih
besar dari nilai pada pemetaan P2 dan memetakan P2 ke nilai yang lebih
besar dari nilai pemetaan P3. Maka :
Pemetaan Skala :
Statemen yang menyangkut pengukuran menyatakan : akan lebih
berarti jika kebenaran tidak berubah ketika suatu skala diterapkan untuk
Tanggal :
Lokasi :
Susun!
BAB 2 TEKNIK PENGUKURAN - HAL 11 DARI 23
ANALISIS KINERJA SISTEM
menggantikannya. Ini yang disebut dengan transformasi yang dapat
diterima. Jadi tipe skala pengukuran yang didefinisikan dalam operasi
matematis harus memiliki arti yang jelas dari data pengukuran.. Setiap
pengukuran dapat ditransformasikan ke skala lain dengan pemetaan satu per
satu. Ini membuat pengukuran lain :
Tipe
Skala
Kecenderungan Penyebaran Outliers operasi
Nominal Mode Jumlah kelas =, ne
Ordinal Median, Mode Range Percentasi <>
Interval Mean, Median Standar Deviasi Standar
Deviasi
= -
Rasio Mean Median Standar Deviasi, Skewness,
Kurtosis
Standar
Deviasi
:
Defenisi dari transformasi yang dapat diterima
Berikan (A, B, ì) sebagai skala. Pemetaan :
g : A .. A
adalah transformasi yang dapat diterima, jika (A,B,g,ì) juga skala.
Skala Nominal (skala paling rendah).
Skala ini digunakan untuk fitur yang bersifat kualitatif. Skala ini menunjukkan
kesamaan atau ketidaksamaan. Ini memungkinkan untuk menentukan suatu
obyek masuk ke kelas yang mana Contoh : nomor registrasi.
Skala ini tidak menangkap setiap konsep yang dapat dihasilkan dari atribut,
hanya entitas yang diklasifikasikan saja. Transformasi yang diizinkan adalah
transformasi one to one. Contoh : Mengukur tinggi hanya menangkap orang
yang memiliki tinggi yang sama, pemetaan yang dilakukan hanya termasuk
atau tidak termasuk, sering disebut metode kategori. Transformasi yang
diizinkan :
dimana f adalah sebuah fungsi one to one.
Skala Ordinal
Skala ini tidak menangkap setiap konsep yang dapat mempengaruhi
atribut, hanya meletakkan atribut tersebut dalam perintah kuantitas atribut.
Contoh : pengukuran tinggi akan menangkap relasi “lebih tinggi dari”. Fitur
Tanggal :
Lokasi :
Susun!
BAB 2 TEKNIK PENGUKURAN - HAL 12 DARI 23
ANALISIS KINERJA SISTEM
lainnya dalam skala ini adalah seperti : 'lebih besar dari', 'lebih kecil dari',
'sama dengan'. Skala Ordinal mengizinkan pembuatan median dan sistem
rangking pada koefisien yang berhubungan. Contoh : rangking pada
pembagian rapor di sekolah, klasifikasi kapasitas penggunaan mesin.
Transformasi yang diizinkan untuk pengukuran nominal adalah fungsi
monotonic increasing. Ini akan menjaga hubungan berdasarkan rangking pada
masing-masing obyek. Ini sering disebut pula sebagai ordered categories.
Tidak ada konsep jarak antara masing-masing obyek. Transformasi yang
diizinkan :
f dalah fungsi monotonically increasing. Skala ini memerlukan kombinasi
adjacent classes
Skala Interval
Skala ini memberikan setiap transformasi linier yang positif. Jadi
tidak hanya menentukan rangking tapi juga perbedaan antara interval obyek
tersebut. Proses aritmatik mean dan standar deviasi dapat dihitung secara
pasti. Contoh : skala temperatur pada Fahrenheit, Celsius, Reamur.
Skala ini menggunakan unit pengukuran namun tidak memiliki nol
derajat mutlak. Sistem ini menangkap tidak hanya setiap konsep yang dapat
mempengaruhi atribut, tapi juga dugaan jarak antara entitas yang
mempengaruhi atribut tersebut. Contoh : Tahun ini pengukuran temperatur
dalam skala 100 derajat dan Fahrenheit.
Tidak hanya relasi yang diminta tapi juga jarak antara obyek yang didapatkan
dari unit yang ekuivalen
Transformasi yang diizinkan :
Skala Rasio (Skala yang harus diketahui dengan baik)
Skala ini mengizinkan transformasi untuk setiap fungsi yang sama (f'
=u.f, u real, u > 0). Unit yang berarti, harus digunakan dalam skala dan dalam
nilai absolut atau nilai nol mutlak yang memungkinkan. Operasi yang
diizinkan dalam skala ini adalah termasuk hasil bagi, perhitungan presentasi,
nilai mean dan standar deviasi. Contoh : panjang, massa, waktu, sudut,
volume, temperatur dalam kelvin dan harga.
Tanggal :
Lokasi :
Susun!
BAB 2 TEKNIK PENGUKURAN - HAL 13 DARI 23
ANALISIS KINERJA SISTEM
Skala ini hampir sama dengan skala interval, namun memiliki derajat
nol mutlak. Disebut skala rasio karena keberadaan nol membuat berarti
mengambil berdasarkan rasio. Contoh : panjang dalam sentimeter. 0 cm
berarti tidak ada panjang dan dalam saat yang sama cm adalah unit yang sah.
Ini akan membentuk karakteristik proporsional seperti dua adalah banyak atau
setengah itu banyak.
Transformasi yang diizinkan :
Skala Absolut (Skala paling baik).
Pengukuran mutlak akan menghitung jumlah yang terjadi pada atribut
yang diukur. Pengukuran absolut pada suatu atribut itu unik, misalnya hanya
transformasi yang diizinkan saja yang merupakan fungsi identitas. Skala
absolut digunakan untuk transformasi untuk setiap fungsi identitas (f' = f).
Tipe skala ini merepresentasikan semua skala yang samar atau tidak tegas.
Karena hanya transformasi identitas saja yang diperbolehkan, semua tetap
tidak berbeda. Contoh frekuensi dan probabilitas.
Skala real jika diklasifikasikan pada transformasi yang dapat diterima :
Nama skala Transformasi g
Nominal Setiap one to one g
Ordinal g: Strictly increasing function
Interval g(x) = a x + b; a > 0
Ratio g(x) = a x; a >0
Absolute g(x) = a
Aplikasi teknik statistik dalam pengukuran skala sangatlah penting.
Mengukur kecenderungan utama dan penyebarannya dapat dibuat dalam skala
dengan menyediakan proses transformasi. Kita dapat menggunakan mode dan
dsitribusi frekuensi untuk menganalisa data nominal yang dideskripsikan
namun kita tidak dapat menggunakan nilai mean dan daviasi standar. Dengan
skala ordinal, urutan data yang diukur kita dapat menggunakan kategori
tertentu seperti median, maksimum, dan minimum analisis. Tapi untuk data
dalam bentuk interval atau rasio tertentu, kita menggunakan mean, deviasi
standar dan deviations dan mode statistik lainnya (Briand and Basili, 1996).
Tanggal :
Lokasi :
Susun!
BAB 2 TEKNIK PENGUKURAN - HAL 14 DARI 23
ANALISIS KINERJA SISTEM
Skala dan Struktur grup Matematik :
Skala Operasi dasar Empiris Struktur grup matematis
Nominal = Grup permutasi M'=f(M)
Ordinal =, <, > Grup Isotonik M'=f(M) dimana f(M) adalah
fungsi monotonic increasing.
Interval =, <, >, equalitas interval General linear group
M'= aM + b, a > 0
Ratio =, <, >, equalitas interval dan rasio Similarity group M'=aM, a > 0
Absolute
Kesederhanaan (banyaknya upaya yang dibutuhkan untuk mendefinisikan
metrik, pengumpulan data dan validasi model).:
Nominal < Ordinal < Interval < Ratio
4. PROSES PENGUKURAN
Adalah Suatu fungsi informasi yang dapat diperoleh melalui monitor dan
biaya pengukuran.
Kegunaan pengukuran
1. Menaksir (assessment)
2. Memprediksi (prediction)
Tipe pengukuran
• Pengukuran langsung (direct measurement) dari atribut tidak
tergantung pda atribut lainnya, contoh : pengukuran panjang, lebar.
• Pengukuran tidak langsung (Indirect measurement) pengukuran
satu atau lebih atribut, mengukur reabilitas.
• Pengukuran Proxy percobaan pengukuran properti dari suatu obyek
secara tidak langsung menggunakan properti lainnya yang lebih mudah
didapatkan. Memerlukan pendekatan prediksi dari properti real.
Pengukuran Proxy harus dapat mendemontrasikan : reliabilitas dan
validitas (Harrison, 1994)
Kriteria Pengukuran
• Obyektif. Pengukuran dilakukan lewat pendekatan yang obyektif, tidak
subyektif menggunakan semua tester yang mungkin dilakukan.
• Reliabilitas. Pengukuran realibel (stabil dan presisi) jika dalam
pengulangan yang dilakukan dalam kondisi yang sama, juga
didapatkan hasil yang sama.
Tanggal :
Lokasi :
Susun!
BAB 2 TEKNIK PENGUKURAN - HAL 15 DARI 23
ANALISIS KINERJA SISTEM
• Validitas, pengukuran valid jika hasil pengukuran memenuhi
karakteristik kualitas.
• Normalisasi. Normalisasi diperlukan untuk dapat memiliki skala hasil
pengukuran dapat direpresentasikan dengan mudah. Ini berhubungan
dengan skalabilitas.
• Mudah dibandingkan. Pengukuran mudah dibandingkan ketika diatur
suatu relasi ke pengukuran lainnya.
• Economis. Pengukuran harus memiliki biaya yang rendah. Tergantung
pada derajat otomatisasi dan nilai pengukuran, yang biasanya
digunakan untuk pemilihan penggunaan perangkat bantu jenis tertentu.
• Berguna. Mudah dibuktikan dengan validitas, dan amat berguna dalam
evaluasi kualitas
Analisis untuk mencapai tujuan evaluasi kinerja
1. Analisis makroskopis
Analisis untuk menentukan indeks global seperti massa median, waktu
respon median, pemanfaatan device peripheral dan sebagainya.
2. Analisis mikroskopis
Analisis dengan detail yang lebih tinggi, seperti menentukan
peningkatan kontribusi setiap jenis instruksi bagi penggunaan CPU,
menganalisis jumlah page yang dimasukkan selama waktu yang
tersedia.
Faktor yang membedakan dua jenis analisis ini adalah durasi fenomena yang
diamati dan frekuensi kejadian saat itu.
Tingkat pengujian dalam proses implementasi suatu sistem
• Pengujian bagian (modul) ; pengujian pada level modul.
• Pengujian integrasi ; pengujian pengelompokan logis dari modul-modul
tersebut.
• Pengujian Sistem ; pengujian keseluruhan sistem baru dengan
mengikutsertakan pemakai sistem.
• Pengujian penerimaan ; pengujian khusus oleh pemakai sistem semua
komponen perancangan, termasuk manual, dokumentasi dan metode
sosialisasi.
• Pengujian operasi dan lingkungan ; pengujian saat pengoperasian sistem
baru dilakukan pada lingkungan yang sesungguhnya.
Properti Pengukuran
Axiomatika yang harus selalu ada agar pengukuran dapat berguna :
Tanggal :
Lokasi :
Susun!
BAB 2 TEKNIK PENGUKURAN - HAL 16 DARI 23
ANALISIS KINERJA SISTEM
• Harus memungkinkan untuk dideskripsikan, walau tidak formal,
aturannya menentukan. Ada mekanisme yang mengurangi kesalahan
dan pengukuran pada obyek atau proses yang sama harus diletakkan
pada kelas yang sama.
• Pengukuran harus dapat membuat paling tidak dua kelas yang
ekuivalen.
• Relasi yang sama dibutuhkan.
• Jika terdapat jumlah nilai yang tidak terbatas dari obyek atau even
telah diukur, bisa jadi dua atau lebih even tersambung pada kelas
ekuivalen yang sama, karena itu kita dapat mengukur jumlah yang
tidak terbatas dari obyek.
• Metrik harusnya tidak menghasilkan suat ketidaknormalan, metrik
harus dapat menjaga suatu obyek tetap sama dengan sifat empirisnya.
• Teorema yang unik harus dapat mempertahankan semua kemungkinan
transformasi pada semua tipe skala. Maka hanya ada satu bentuk
antara perubah dalam struktur pengukuran.
Kegunaan Pengukuran
Secara dasar pengukuran digunakan untuk :
• Penilaian Keadaan (menaksir)
• Memprediksi, tentang atribut yang belum terjadi.
Reliabilitas Pengukuran :
• akurasi
• dapat diulang
Faktor reabilitas adalah :
• Konsistensi internal, semua elemen pengukuran harus ditaksir dalam
konstruksi yang sama dan r\tidak saling berhubungan.
• stabilitas, nilai yang ekuivalen harus didapatkan pada koleksi yang
diulang dari data dalam lingkup yang sama.
Tanggal :
Lokasi :
Susun!
BAB 2 TEKNIK PENGUKURAN - HAL 17 DARI 23
ANALISIS KINERJA SISTEM
Contoh hasil pengukuran
ISP Users Vendors
Tujuan - Perencanaan
kapasitas
- operasi
- Servis pertambahan
nilai (contoh :
laporan pelanggan)
- usage-base billing
- monitor kinerja
- rencana upgrade
- negosiasi Kontrak
servic
- set harapan user
- optimalisasi
Pengiriman isi
- Kebijakan dalam
menggunakan
- Meningkatkan desain /
konfigurasi
- impelementasi
diagnosis secara realtime
atau debugging
dalam penyebaran
perangkat keras
Pengukuran - bandwidth
utilization
- packet per second
- round trip time
(RTT)
- RTT variances
- packet loss
- reachability
- circuit performance
- routing diagnosis
- bandwidth
availiblitas
- response time
- packet loss
- reachability
- connection rates
- service qualities
- host performance
- trace sampel
- analisi log
5. PENGUKURAN DAN METRIK
Metrik merupakan karakteristik numerik atribut sederhana seperti
panjang, banyak keputusan, banyak operator (untuk program) atau banyak bug
yang ditemukan dan waktu (untuk proses)
.. Metode Pengukuran dapat
ditemukan pada Mata kuliah
Instrumentasi
Tanggal :
Lokasi :
Susun!
BAB 2 TEKNIK PENGUKURAN - HAL 18 DARI 23
ANALISIS KINERJA SISTEM
Mengukur adalah salah satu fungsi metrik yang dapat digunakan untuk
menaksir atau memprediksi atribut yang lebih kompleks seperti biaya dan
kualitas. Pengukuran tidak selalu nilai yang real. Defenisi dari pemetaan
numerik tidak hanya diterapkan dalam pengukuran. Setiap pengukuran adalah
metrik tapi tidak berlaku sebaliknya. (Harrison, 1994). Oleh karena itu kita
harus mengetahuo apa yang kita ukur sebelum membuat pemetaan numerik
tersebut. (Fenton, 1994).
Metrik adalah fungsi m, mendefinisikan pasang obyek x,y yang di antara
keduanya memiliki jarak pengukuran m(x, y). Properti Metrik antara lain
(Fenton, 1994) :
1. m(x , y) = 0, untuk semua x,
2. m(x , y) = m(y, x) for all x, y dan
3. m(x, z) =gt m(x,y) + m(y,z) untuk semua x, y, z.
Tipe metrik (Bieman et al., 1991):
o Metrik internal software : mengukur karakterisrik statik atau
atribut dari dokumen perangkat lunak.
o Metrik external software : mengukur karakteristik atau atribut
secara simultan antara atribut dari dokumen perangkat lunak
dan apa saja yang berada di luar dokumen tersebut.
o Metrik prediktif software : mengestimasi karakteristik atau
atribut dari dokumen perangkat lunak yang tidak aktif atau
karena alasan tertentu menjadi tidak tersedia pada saat
dilakukan pengukuran.
Metrik digunakan sebagai (Daskalantonakis, 1992):
o Proses metrik
o Produk metrik
o Proyek metrik
Metrik :
o Token based metrik
o Control-Flow metrik
o Data-flow metrik
o Macro metrik
o Problem metrik
Langkah-langkah membuat software metrik :
o Spesifikasikan domain untuk metrik
o Spesifikasikan atribut dokumen yang akan diukur oleh metrik
Tanggal :
Lokasi :
Susun!
BAB 2 TEKNIK PENGUKURAN - HAL 19 DARI 23
ANALISIS KINERJA SISTEM
o Spesifikasikan model untuk dokumen software. Modelnya
harus mewakili atribut obyek. Dengan kata lain dapat
menyatakan abstraksi atribut tersebut.
o Definisikan pemetaan dokumen untuk diset pada model.
o Definisikan order untuk di set pada model tersebut.
o Definisikan jawaban untuk order yang didefiniskan tersebut.
o Definisikan fungsi dari setting model untuk menjawab order
tadi. Fungsi ini harus bisa memelihara order tersebut.
Metrik Yang berdayaguna, adalah metrik yang :
o Mudah dimengerti dan didefinisi, dalam memfasilitasi
kalkulasi dan analisis nilai metrik yang konsisten.
o obyektif (Mungkin dilakukan) dalam mengurangi pengaruh
dari perkiraan personal dalam mengkalkulasi dan menganalisis
nilai metrik.
o Biaya yang efektif dalam mendapatkan roi(return on
investment) yang positif. Nilai informasi yang dihasilkan harus
melampaui biaya untuk mengumpulkan data, mengkalkulasi
metrik dan analisa niali tersebut.
o informatif dalam memastikan perubahan nilai metrik memiliki
interpretasi yang benar (misalnya dalam mengestimasi
meningkatnya akurasi suatu proyek, amat berimlikasi terhadap
teknik estimasi yang digunakan).
Proses Mengukur :
o Definisi tujuan pengukuran
o Pembuat tugas pengukuran berdasarkan tujuan pengukuran.
o Menentukan obyek pengukuran.
o Tentukan metrik pengukuran dan skala pengukuran
o Alokasi metode pengukuran dan alatbantu pengukuran untuk
mengukur obyek dan metrik.
o Menemukan nilai pengukuran.
o Interpretasi metrik.
Dalam orientasi tujuan pengukuran, identifikasi tujuan
pengukuran dan karakteristik penting yang akan diukur haruslah ada
sebelum mendefinisikan metrik. Ini tidak hanya dibutuhkan untuk
definisi metrik, tapi juga sebagai bahan untuk membuat interpretasi
nilai yang akan diukur tersebut.
Validasi Metrik.
Validasi perangkat lunak metrik adalah proses memastikan metrik
dalam karakteristik numerik yang tepat dari atribut yang dimaksud.
Tanggal :
Lokasi :
Susun!
BAB 2 TEKNIK PENGUKURAN - HAL 20 DARI 23
ANALISIS KINERJA SISTEM
Proses validasi metrik membutuhkan metode ilmiah – yaitu dengan
hipotesa yang membentuk pengumpulan data yang benar, dan
percobaan hipotessi tersebut. (Fenton, 1991).
o Validasi Content (isi), dibutuhkan dalam definisi domain,
untuk mencatat fenomena yang terdapat pada kompleksnya
perangkat lunak tersebut.
o Validasi Prediksi, menggunakan pengukuran untuk
mempredeksi keluaran dari beberapa even. Validasi ini
dihasilkan oleh hubungan antara pengukuran dan kriterianya.
o Validasi konstruksi, melihat sedekat apa hubungan antara
pendefinisian operasi pada data dengan pembuatan konstruksi
abstraknya.
6. TEORI SAMPLING
Metode sampling merupakan sebuah teknik statistik yang bisa digunakan
kapan saja untuk melakukan pengukuran semua data yang merupakan
karakteristik sekelompok orang, obyek atau pun even-even yang tidaklah
mungkin untuk diambil secara keseluruhan karan tidak praktis atau terlalu
mahal.
Walau pun menguji sekelompok populasi, metode ini hanya menganalisis
sebagian saja, yang disebut sample. Melalui sample tersebut dapat dilakukan
perkiraan dari sejumlah parameter yang merupakan karakteristik populasi.
Sampling dapat digunakan untuk 2 tujuan :
1. Untuk mengukur pecahan dari interval waktu masing-masing sistem
yang tersedia yang dihabiskan dalam berbagai keadaan. Data yang
dikumpulkan selama interval pengukuran adalah bagian dari analisis
posteriori untuk menentukan apa saja yang terjadi selama masa
interval dan bagaimana perbedaan jenis aktivitas itu berhubungan satu
sama lain.
2. Untuk mengikuti evolusi sistem dan memprediksi kejadian masa
depannya sehingga keputusan yang memiliki pengaruh positif pada
kinerjanya dapat terjadi.
.. Metode Statistik Sampling
dapat ditemukan pada Mata
kuliah Statistika 2
Tanggal :
Lokasi :
Susun!
BAB 2 TEKNIK PENGUKURAN - HAL 21 DARI 23
ANALISIS KINERJA SISTEM
7. SIMULASI
Simulasi adalah teknik pengukuran yang melakukan pengukuran
sebuah model yang identik dalam skala yang lebih kecil dari suatu sistem.
Model simulasi merepresentasikan kinerja dinamis dari suatu sistem dengan
mereproduksi keadaannya dan mengikuti transisi situasi tersebut yang
disebabkan oleh urutan stimulan eksternal yang sesuai.
Kerugian utama teknik pemodelan ini adalah sulitnya membangun
model agar hasil yang diperoleh tetap akurat. Terdapatnya sumber kesalahan
(error) dalam pengukuran langsung dalam simulasi kasus yang menyiratkan
perbedaan yang tidak bisa dihindari antara kinerja model dam kinerja sistem
itu tersendiri.
Terdapat 2 jenis simulator :
• Simulator komersial
Untuk menjalankan simulator komersial yang dikembangkan dan
didistribusikan oleh perusahaan tertentu, dengan memberikan deskripsi
sistem dan beban kerja yang sudah ditentukan sebelumbya.
• Simulator spesifik
Berupa program yang dibuat untuk studi evaluasi kinerja yang harus dapat
beradaptasi pada sistem dengan konfigurasi serta aplikasi yang spesifik.
Model Simulasi Kinerja
Secara konsep, model simulasi dari dunia nyata adalah suatu program
komputer. Simulasi akan mengizinkan siuatu sistem dibuat modelnya pada
setiap level detail : dari translasi langsung model antrian jaringan untuk
menangkap setiap aspek dari perilaku sistem. Simulasi juga mendukung
koleksi metrik kinerja yang dapat didefinisikan dan dapat diprogram.
Arsitektur Simulasi
Simulasi sistem komputer yang ditulis untuk keperluan semua analisis
kinerja secara umum disebut simulasi even-diskrit. Dalam simulasi evendiskrit
ini, dibentuk kuantitas yang merepresentasikan waktu, dan state sistem
hanya berubah jika suatu even terjadi. Dengan perbandingan, model simulasi
waktu-kontinyu dianggap sebagai kemajuan yang berlanjut
Simulasi even-diskrit sistem komputer lebih lanjut dikategorikan
sebagai kendali-even ( event-driven ) atau basis-siklus (cycle-based). Aktivitas
model simulasi kendali-even sebagai even yang merangkai even asinkron
yang terjadi pada interval yang tidak biasa. Sebagai contoh, simulasi file
server pada suatu jaringan akan melampirkan even seperti kedatangan paket
Tanggal :
Lokasi :
Susun!
BAB 2 TEKNIK PENGUKURAN - HAL 22 DARI 23
ANALISIS KINERJA SISTEM
ethernet atau even penyelesaian tugas penulisan pada disk. Simulasi kendalieven
dapat menghasilkan model dengan variasi yang luas untuk semua
sistem.. pada simulasi basis-siklus, semua perubahan pada state sistem adalah
sinkron pada clock tunggal. Simulasi pada dasarnya suatu mesin state besar
yang mengubah state pada setiap waktu tertentu. Simulasi basis-siklus
biasanya menggunakan model prosesor inti atau logika digital lainnya dengan
clock frekuensi tunggal. Dengan memperhatikan dua pendekatan di atas, kita
dapat mengkombinasikannya dalam suatu simulasi dimana di dalamnya setiap
perbuhan clock dianggap sebagai even simulasi.
Simulasi Workload
Terdapat tiga teknik dasar untuk membuat workload untuk simulasi :
stochastic, kendali-trace, atau berbasis-eksekusi (execution-based). Simulasi
Stochastic menggambarkan pola kedatangan job dan aspek lainnya dari
workload dengan suatu sampel dari distribusi probabilitas. Banyak jenis
workload yang dapat digambarkan secara akurat dengan menggunakan
distribusi yang tepat. Workload Stochastic merupakan pilihan yang baik
ketika informasi detail tentang workload tidak tersedia, atau ketika kita
membutuhkan untuk mengubah karakteristik workload. Workload sangat
efisien dan tidak membutuhkan file data yang besar.
Simulasi kendali-trace (Trace-driven) merepresentasikan workload
sebagai suatu urutan operasi atau permintaan layanan (request). Untuk
simulasi web server, urutan permintaan HTTP (HTTP request) merupakan
suatu trace yang memadai, sedangkan simulasi CPU next-generation x86
dapat menggunakan trace pada micro-operasi-nya. Jika data trace secara
akurat merepresentasikan semua workload yang ada, akan mendapatkan hasil
simulasi yang baik, saat dapat menghindari kebutuhan menulis kode simulasi
ke dalam model workload. Kekurangan menggunakan trace adalah bahwa
koleksi hasil trace tersebut merupakan aktivitas yang tidak sederhana dan file
datanya pasti akan sangat besar.
Simulasi stochastic dan kendali-trace dapat ditulis dalam banyak level
detail. Metode simulasi yang ketiga, simulasi berbasis-eksekusi digunakan
untuk membuat detail model prosesor. Input pada simulasi ini kode ksekusi
yang sama seperti pada sistem real. Meskipun metode ini membutuhkan
penulisan dan validasi simulasi detail, teteap saja berpengaruh pada kompiler
yang digunakan dan membuka kesempatan variasi workload yang amat luas
yang dapat dijadikan model.
Prinsip menggunakan simulasi adalah adanya kebutuhan kegiatan menulis dan
mem-validasi program simulasi dan seringkali pula mempertimbangkan
kebutuhan komputasi (waktu CPU untuk semua simulasi yang dilakukan,
space disk untuk proses trace). Pada umumnya, simulasi akan membutuhkan
Tanggal :
Lokasi :
Susun!
BAB 2 TEKNIK PENGUKURAN - HAL 23 DARI 23
ANALISIS KINERJA SISTEM
waktu yang lebih lambat dari pada sistem real-nya : jam pada suatu simulasi
kadangkala hanya beberapa detik saja dari waktu real-nya.
Alat bantu dan Resource Simulasi
Di bawah ini adalah software simulasi yang baik, ada yang komersial dan ada
pula yang open source, yaitu :
• OPNET Modeler®
(http://www.opnet.com/products/modeler/home.html), adalah software
komersial untuk simulasi jaringan. Disini banyak terdapat poin dan
pustaka yang berharga tentang tipe sambungan (link types), protokol,
dan beberapa devais khusus. Ini adalah pilihan yang bagus untuk
proyek yang membutuhkan model detail tentang teknologi jaringan.
Modeler dapat digunakan untuk simulasi non-jaringan pula.
• Hyperformix (formerly SES) WorkbenchTM. Jika dibandingkan
dengan tools di atas, tool ini mendukung pendekatan generik dan
abstrak untuk mensimulasikan sistem komputer. Pilihan bagus untuk
sistem model diaman sumber aktif dan sumber pasif signifikan.
(http://www.hyperformix.com/products/workbench.htm)
Kedua paket di atas berkapabilitas amat baik, dan tentu saja harganya juga
mahal. Jika mencari yang lebih ekonomis dapat mencoba :
• Mesquite Software CSIM18
(http://www.mesquite.com/htmls/csim18.htm), model pustaka untuk
program bahasa C /C++ yang berorientasi proses. Ini masih
merupakan software komersial, tapi masih lebih murah dibandingkan
Modeler atau Workbench.
• ns2 (http://www.isi.edu/nsnam/ns/) software simulasi jaringan open
source yang populer di kalangan peneliti. Mendukung tumpukan
protokol TCP/IP, protokol dasar Internet dengan sangat baik.
• Dapat di cari pada Situs internet Open Directory Project
(http://dmoz.org/Science/Software/Simulation/) dan atau situs internet
Google
(http://directory.google.com/Top/Science/Software/Simulation/)

BAB 3 AKS

BAB 3 PERMODELAN DAN BEBAN KERJA - HAL 1 DARI 14
ANALISIS KINERJA SISTEM
MODEL SISTEM
Pengukuran membutuhkan sebuah model untuk aplikasi yang akan dievaluasi.
Model adalah :
• Sebuah abstraksi atau penyederhanaan realita
• Mempunyai input dan output
• Menetapkan pemetaan (mapping) dari keadaan yang sebenarnya ke input
dan output.
Klasifikasi Model sistem
Sistem yang dianalisa sebaiknya harus didefinisikan dan dipahami secara
detail. Kebanyakan model digunakan untuk beberapa variasi tingkatan dari
proyek evaluasi kinerja. Yang terbegi atas 3 kelas utama (Sbodova, 1976),
yaitu:
• Model Struktural. Mendeskripsikan komponen sistem individual dan
konekasinya. Model ini menghasilkan antar muka yang sangat berguna
menjembatani antara sistem real dengan banyak model abstrak
lainnya.
• Model Fungsional. Mendefinisikan sistem yang dapat dianalisa secara
matematis dan lewat studi empiris.
• Model Analitik Kinerja. Memformulasikan kinerja sistem workload
dan sistem struktur. Model kinerja dihasilkan oleh analisis dan model
fungsional untuk model workload yang spesifik.
Model Struktural adalah gambaran dari komponen sistem aktual dan semua
koneksinya. Model ini direpresentasikan dalam diagram blok, dengan
menggunakan bahasa yang khusus.
Model Fungsional yang digunakan dalam analisis kinerja dapat dibagi dalam
4 kelompok :
parameter
input model output
perbandingan
Sistem nyata
Tanggal :
Lokasi :
Susun!
BAB 3 PERMODELAN DAN BEBAN KERJA - HAL 2 DARI 14
ANALISIS KINERJA SISTEM
• Model Flowchart. Model ini dibuat untuk menggambarkan langkah
demi langkah eksekusi suatu sistem.
• Model Finite-state. Model ini dapat digunakan sebagai perangkat
analisis dari sistem sumber. Model ini dapat digambarkan dalam graf
berarah (directed graph); dimana node merepresentasikan keadaan
sistem, dan tanda panah menggambarkan transisi pada sistem.
Keadaan sistem tersusun dari keadaan individual dari komponenkomponennya
dan merefleksikan segala macam operasi sistem
tersebut. Waktu pemecahan masing-masing keadaan sistem individual
tersebut diperoleh dari kemungkinan transisi yang ditunjukkan tanda
panah.
Model Finite State
• Parallel net. Model ini merupakan modifikasi dari Petri nets. Paralel
net adalah Graf berarah (directed graphs) yang dibuat oleh dua node
yang berbeda tipe: dimana transisi harus dapat mewakili proses
secara tepat. Dalam kondisi ini kebanyakan transisi harus tersedia
secara simultan. Paralel ner sangat baik untuk mendeskripsikan Sistem
asynchronous yang bekerja secara bersamaan dalam satu waktu.
Dalam metode petri nets, transisi dalam suatu even dilakukan tanpa
memiliki durasi. Pewaktuan petri nets adalah bagus untuk alat bantu
analisis sistem throughput.. Kondisi direpresentasikan sebagai suatu
lingkaran dan transisi oleh suatu garis penghalang(bar).
Tanggal :
Lokasi :
Susun!
BAB 3 PERMODELAN DAN BEBAN KERJA - HAL 3 DARI 14
ANALISIS KINERJA SISTEM
Model Parallel Nets
• Model Queueing. Pada model ini sistem direpresentasikan sebagai
himpunan resource dan antrian dari resource tersebut. Ketika suatu job
masuk ke dalam sistem, akan masuk terlebih dahulu ke dalam antrian,
dan kemudian akan menunggu sampai permintaan layanannya dapat
dipenuhi. Setelah permintaan job diproses, job meninggalkan sistem
untuk kemudian masuk ke antrian lain lagi. Model ini menekankan
aliran dari job yang melewati sistem, namun tetap dapat dilakukan
observasi keadaan dari sistem tersebut. Model ini memiliki kegunaan
yang amat luas.
Model Queueing
Model analitik Kinerja adalah ekspresi matematik yang dihasilkan oleh
sistem model fungsional. Model fungsional haruslah berhasil menangkap
struktur dasar dari suatu sistem dan workload untuk diubah menjadi simbolsimbol
matematis yang terstruktur.
Model yang paling sederhana dari suatu prosesor tunggal (server) dan antrian
tunggal dari suatu tugas yang akan diproses oleh prosesor. Setiap tugas
dideskripsikan dalam 2 parameter :
• Waktu kedatangan
• Waktu service yang diminta
Tanggal :
Lokasi :
Susun!
BAB 3 PERMODELAN DAN BEBAN KERJA - HAL 4 DARI 14
ANALISIS KINERJA SISTEM
Workload dari sistem yang sederhana ini dijelaskan oleh distribusi waktu
antara wktu yang berurutan (waktu interarrival) dan distribusi dari waktu
dilayani.
Keadaan sistem adalah banyaknya tugas yang ada dalam sistem. Pengukuran
kinerja sistem ini adalah waktu dibutuhkan oleh tugas untuk dikirim ke dalam
sistem (waktu antri + waktu dilayani (service time)).
Model ini membawa beberapa asumsi :
• Waktu interval dan waktu dilayani secara statistik berdiri sendiri
• Waktu interarrival secara statistik berdiri sendiri.
• Semua waktu interarrival harus didistribusikan.
• Waktu dilayani (service times) untuk permintaan yang berturut-turut
secara statistik berdiri sendiri
• Semua waktu dilayani harus didistribusikan.
Asumsi tambahan :
• Kedua distribusi diasumsikan untuk dapat dijadikan eksponensial
(memoryless property /Markov property)
Model Empiris Kinerja
Model ini dihasilkan oleh analisis data empiris. Tersusun dari nilai
yang diobservasi dari pengukuran kinerja p dan observasi karakteristik
workload w. Fungsi Sp dapat ditayangkan dalam banyak tampilan yang
berbeda, biasanya pada tabel atau grafik. Jika diperlukan dapat pula dalam
ekspresi matematis.
Terbagi atas :
• Model Regresi
• Sistem profile
Model Regresi
Model kinerja biasanya diasumsikan linear.
Dimana variabel independen pi adalah pengukuran kinerja utama, variabel
independen zj adalah karakteristik workload, karakteristik sistem atau
Pengukuran kinerja internal. Untuk bagian sistem tertentu dan tujuan tertentu
model ini cukup memadai.
Tanggal :
Lokasi :
Susun!
BAB 3 PERMODELAN DAN BEBAN KERJA - HAL 5 DARI 14
ANALISIS KINERJA SISTEM
Proses yang dievaluasi menggunakan model regresi yang terdiri dari 3 urutan :
• Karakteristik Workload dan kinerja sistem diukur sebalem dan sesudah
modifikasi sistem.
• Teknik analisis Regresi digunakan untuk membangun model kinerja
atau model-model lainnya.
• Model digunakan untuk mengestimasi untuk mengetahui tingkatan
perubahan dalam kinerja dari dua sistem yang dimodifikasi dan
tingkatan perubahan pada workload.
Model regresi dikalibrasi untuk cocok dengan himpunan observasi khusus.
Kalibrasi model tersebut haruslah divalidasi, apakah model itu dapat
menunjukkan perilaku sistem setiap waktu atau tidak. Validasi dilakukan
dengan melakukan tes pada model tersebut menggunakan data yang berbeda.
Pendekatan ini terbatas hanya pada bagian sistem tertentu saja. Hasil dari
sistem dapat diumpankan ke sistem yang lain. Hasil dari model empiris ini
berdasarkan model fungsionalnya dan karena itulah mudah dihubungkan ke
sistem secara fisik, sebelum asumsi tentang workload sistem dapat dikurangi
karena elemen inputnya dapat langsung diambil dari sistem sesungguhnya.
Sistem Profile
Untuk menggambarkan kegunaan dari masing-masing resources sistem.
Sistem profile ini biasanya didapatkan dari penyusunan model kinerja dari
karakteristik workload yang tidak termasuk dalam variabel modelnya.
Workload yang hanya menunjukkan kegunaan resoureces secara individual
saja. Biasanya direpresentasikan dalam Gant Chart,
Fase Perencanaan pengukuran :
• Menentukan apa yang diukur
• Memilih alat pengukuran
• Desain percobaan dan estimasi biaya
Model dan teori
Model adalah pelengkap dari teori. Hal ini diungkapkan dari hubungan antara
input dan output dari model tersebut, yang membuat model dapat
dimanfaatkan untuk memprediksi kekuatan sistem tersebut.
Komponen tambahan digunakan dalam istilah asumsi yang dibuat disini.
Walau amat terbatas lingkupnya, namun dapat menentukan aplikabilitas
model pada kebanyakan masalah domain pengukuran. Jika asumsi terlalu
dalam ditanamkan dalam suatu model, maka akan semakin sulit model
tersebut divalidasi sesuai dengan yang diaplikasikan.
Tanggal :
Lokasi :
Susun!
BAB 3 PERMODELAN DAN BEBAN KERJA - HAL 6 DARI 14
ANALISIS KINERJA SISTEM
Masalah lain adalah level ketepatan dan dapat dipercayanya suatu
pengukuran, seberapa besar suatu model yang kita miliki dan berapa banyak
proses pengukuran yang dapat dilakukan terhadap model tersebut.
Kriteria Model:
.. Model harus sesuai dengan teori yang sudah diterima secara luas.
.. Model harus formal dan memuingkinkan.
.. Model harus menggunakan input yang terukur daripada harus
mengestimsi dan mengeluarkan perkiraan yang subyektif.
.. Evaluasi model harus disengaja.
.. Model juga dapat digunakan untuk menentukan kriteria empiris
Langkah-langkah pembuatan Model
BEBAN KERJA (WORKLOAD)
Masalah Karakteristik Beban Kerja
Sebuah Sistem komputer dapat dilihat sebagai suatu hasil pengelompokan
perangkat keras dan perangkat lunak yang digunakan dalam suatu model timechanging
dari pemrosesan yang dilakukan oleh komunitas pengguna.
Selama adanya interval waktu, komunitas pengguna mengajukan permintaan
proses ke dalam sistem melalui input yang dikoordinasikan oleh kelompok
program, data dan kelompok perintah (command). Semua informasi input ini
biasanya didesain melalui apa yang disebut dengan beban kerja (workload).
Tanggal :
Lokasi :
Susun!
BAB 3 PERMODELAN DAN BEBAN KERJA - HAL 7 DARI 14
ANALISIS KINERJA SISTEM
Pengaruh timbal balik antara beban kerja, sistem komputer dan
kinerjanya. Ada 2 macam umpan balik yaitu looping dalam (level2)
dan looping luar (level1)
Umpan balik yang mempengaruhi beban kerja terdiri atas dua macam :
1. Looping dalam (inner loop / umpanbalik level 2), adalah umpan balik
yang mengontrol algoritma melalui sistem operasi.
2. Looping luar (outer loop / umpanbalik level 1), adalah umpan balik
yang bertugas untuk mempengaruhi kemampuan sistem dan
merencanakan kebiasaan komunitas pengguna.
Karakteristik beban kerja : penjelasan secara kuantitatif dari tanda-tanda /
sifat-sifat dari beban kerja. Karakteristik ini biasanya telah terdapat pada
parameter beban kerja yang dapat mempengaruhi kebiasaan sistem.
Representasi Model beban Kerja
Keakuratan sebuah model beban kerja adalah sebuah karakteristik yang
penting untuk kredibilitas dan untuk menghindari penggunaan dari berbagai
macam model. Ketika sebuah model digunakan untuk mewakili sistem beban
kerja yang real, keakuratannya sering disebut dengan representasi model
Jenis Representasi model beban kerja :
1. Model probabilistik
Mengkarakteristikkan masing-masing elemen beban kerja setiap
proses dengan jumlah parameter yang terbatas (misalnya waktu CPU,
jumlah operasi I/O an ruang memori yang dipakai.
2. Model deterministik
User
community
Beban
kerja (W)
Sistem kinerja
Umpanbalik Level 2
Umpanbalik Level 1
Tanggal :
Lokasi :
Susun!
BAB 3 PERMODELAN DAN BEBAN KERJA - HAL 8 DARI 14
ANALISIS KINERJA SISTEM
Masing-masing proses direpresentasikan dengan sekelompok nilai
parameter yang tidak dapat dibangkitkan selama proses simulasi,
seperti model probabilistik tetapi merupakan salah satu yang sudah
dispesifikasikan dari permulaannya.
Tiga level representasi model untuk suatu sistem komputer :
1. Level fisikal (level 1)
o Berorientasi pada sistem perangkat keras dan perangkat lunak
o Sistem yang ada sangat ketergantungan dan dapat digunakan
pada seluruh studi kerja pengukuran kinerja.
o Relatif mudah direkonstruksi karena tersedianya berbagai jenis
pengukuran yang mendukungnya.
o Contoh komponen dasar beban kerja yang dikarakteristikkan
oleh pemakaian CPU time yaitu jumlah instruksi yang
dijalankan, jumlah tempat penyimpanan di memori utama,
waktu total operasi I/O, jumlah file kerja waktu kerja saluran
(channel) I/O dan disk.
2. Level virtual (level 2)
o Orientasi pada sumber-sumber yang bersifat logika.
o Ketergantungan sistem satu sama lain yang lebih kecil
dibandingkan level 1
o Lebih dekat dengan sisi programmer.
o Contoh : statement bahasa pemrograman tingkat tinggi, nomor
akses record atau file dalam database dan perintah interaktif.
3. Level fungsional (level 3)
o Berorientasi pada aplikasi
o Sistem yang mandiri
o Sulit untuk mendesain representasi model secara sistematik.
o Diperlukan di dalam studi perolehan perilaku aplikasi.
o Contoh : perhitungan payroll, inventory control, perhitungan
akuntansi
Keakuratan (atau representatif ) model beban kerja didefiniskan pada cara
yang berbeda, tergantung pada level model yang diambil. Contoh kasus :
Andai pada sebuah beban kerja W, terdapat beberapa kriteria yang mungkin
dipilih untuk mengevaluasi gambaran dari sebuah model W’ yang diturunkan
dari defenisi berikut ini :
• W’ adalah sebuah gambaran model dari W jika permintaan sumber
fisiknya memiliki proporsi yang sama dengan yang ada pada W.
• W’ adalah sebuah gambaran model dari W jika permintaan sumber
fisiknya memiliki rata-rata yang sama dengan yang ada pada W.
• W’ adalah sebuah gambaran model dari W jika fungsi yang sama
diproporsikan sama sebagai W.
• W’ adalah sebuah gambaran model dari W jika memproduksi nilai indeks
kinerja P yang sama sebagai W ketika bekerja pada sistem Y yang sama.
Tanggal :
Lokasi :
Susun!
BAB 3 PERMODELAN DAN BEBAN KERJA - HAL 9 DARI 14
ANALISIS KINERJA SISTEM
Pengujian Beban Kerja
Defenisi
Beban kerja yang diproses oleh sistem sambil melakukan pengumpulan datadata
pengukuran. Sering disebut pula model beban kerja real.
Penggunaan beban kerja model real untuk memecahkan masalah-masalah
evaluasi sistem ini bertujuan :
1. Untuk memenuhi kebutuhan eksperimen reproduksi model, yaitu dengan
membuat perbandingan antara indeks representasi yang sama yang sangat
penting dalam banyak jenis studi evaluasi, seperti studi evaluasi terhadap
efektifitas beberapa aksi tuning.
2. Mengurangi durasi pada setiap sesi pengukuran dengan lebih
berkonsentrasi pada satu pengukuran yang dapat menjalankan seluruh
beban kerja model real.
3. Untuk menghasilkan sebuah representasi beban kerja yang konsisten
dengan penggunaannya. Contoh : simulator input, analisis model input.
4. Untuk mencegah masalah-masalah privacy dan keamanan yang kadang
terbatas dalam penerapannya pada beban kerja model real dan data-data
pada suatu studi evaluasi.
Kategori Pengujian beban kerja
1. Real test workload
Terdiri dari semua program asli dan data yang diproses selama interval waktu
tertentu. Tes ini merupakan pengukuran proses beban kerja sistem selama sesi
pengukuran, dan merupakan tes yang secara potensial paling representatif dan
paling murah untuk diterapkan.
Durasi sesi pengukuran berfungsi sebagai tujuan eksprerimen, aplikasi alami
dan mode processing (batch, iteraktif dan realtime). Alasan utama yang
membatasi penggunaan tes ini dalam eksperimen ulang pada kondisi beban
yang sama :
• Kekurangan fleksibilitas karena ketidakmampuan memodifikasi program
konsumsi sumberdaya.
• Kebutuhan akan penggunaan ulang data asli (file,database) ketika program
real dieksekusi, maka semua data tersebut akan di-copy ke memori kedua,
dengan pertimbangan ekonomis dan gangguan-gangguan yang mungkin
terjadi.
• Confidentialy dari program dan data tertentu, dimana dapat mencegah
duplikasi dan penggantian dengan data yang yang serupa dengan
karakteristik representasinya.
• Perangkat keras yang berbeda dan perangkat lunak dari sistem yang
berbeda atau versi lain pada sistem yang sama.
Tanggal :
Lokasi :
Susun!
BAB 3 PERMODELAN DAN BEBAN KERJA - HAL 10 DARI 14
ANALISIS KINERJA SISTEM
2. Synthetic Test Workload
Terdiri dari kumpulan komponen dasar (program, perintah interaktif, dan lainlain)
dari beban kerja sesungguhnya (real workload) atau terdiri dari campuran
komponen beban kerja yang sesungguhnya dengan komponen yang dibuat
dengan tujuan tertentu (program atau kernel sintetis). Hal ini disebut Natural
Synthetic Workload atau benchmarks.
Teknik yang dibutuhkan untuk implementasi benchmark adalah berkaitan
dengan kondisi tertentu, berkaitan dengan hal-hal eksternal untuk mengeset
program dengan pertimbangan tertentu yang mungkin memberikan dampak
pada pengukuran penampilan dari berbagai macam sistem. Contoh :
• Proritas eksekusi : Setiap sistem berhubungan dengan prioritas dalam cara
yang berbeda. Pada sistem tertentu, penegasan prioritas pada program oleh
penjadwalan diubah selama eksekusi berlangsung dan hal ini berdampak
pada urutan eksekusi, job mix dan akhirnya pada penampilan sistem secara
keseluruhan.
• Derajat maksimum multiprogramming : Parameter sistem ini bervariasi
dari sistem ke sistem dan sedikit mempengaruhi secara substansial
terhadap indeks kinerja.
• Rutinitas logging : Seringkali rutinitas ini sebagai sumber data yang
digunakan dalam studi evaluasi.Masing-masing sistem memiliki rutinitas
sendiri-sendiri, dimana kadangkala rutinitas tersebut memiliki nama yang
mirip pada variabel dengan makna yang berbeda. Sebelum mulai
mempelajari studi perlu dilakukan investegasi untuk melatih makna dari
variabel yang diukur dengan melogging rutinitas dan error yang dapat
mempengaruhi.
• Parameter untuk generasi dari sistem operasi : Setiap sistem operasi
memiliki beberapa parameter yang nilainya diberikan selama fase
generasi. Nilai dari parameter tersebut mempengaruhi kinerja sistem, hal
ini merupakan kasus dari parameter lain yang dipilih oleh instalasi atau
oleh pengguna lain. Misalnya : metode akses, hubungan channel dan
peralatan peripheral, pemilihan kompiler, hirarki lokasi pada penyimpanan
dari modul sistem operasi, file dan sebagainya.
Sebuah natural synthetic workload untuk sebuah sistem interaktif yang
merupakan sebuah interactive benchmark adalah sebuah pengujian beban
kerja yang terdiri dari skrip-skrip yang diekstaksi dari sebuah real workload.
Salah satu karakteristik yang paling penting dari program sintetis adalah
kemampuannya yang fleksibel, dimana diperbolehkan bagi program sintetis
ini untuk melakukan simulasi dengan sebuah spektrum yang lebar dari real
program terhadap pin-point view konsumsi sumberdaya yang ada.
Tanggal :
Lokasi :
Susun!
BAB 3 PERMODELAN DAN BEBAN KERJA - HAL 11 DARI 14
ANALISIS KINERJA SISTEM
Kadangkala sebuah program sintetis ini dapat trdiri dari dua tipe tambahan
parameter disamping yang digunakan untuk tujuan kontrol : correction
parameter dan calibration parameter.
3. Artificial Test workload
Sebuah model artifisial dari sebuah beban kerja, terdiri dari peralatan
komponen dasar yang digunakan untuk beban kerja pada suatu sistem real
atau suatu model tertentu.
Model tipe ini, memiliki instruksi untuk menggabungkan beberapa jenis
model yang terdiri dari suatu program tunggal yang memiliki frekuansi
eksekusi tiap-tiap instruksinya secara kebetulan sama dengan frekuensi
seluruh beban kerja yang akan dimodelkan.
Teknik Implementasi Model Beban Kerja
Langkah utama formulasi model beban kerja (fase pendahuluan dari
prosedur desain model beban kerja)
Langkah awal studi evaluasi kinerja yaitu dengan mendefenisikan tujuannya.
Lalu untuk menetapkan parameter beban kerja dilakukan dengan cara
menspesifikasikan obyek yang akan diukur, kemudian menentukan instrumen
Analisa penggunaan
model sesuai dengan
tujuan studi
Menentukan durasi sesi
pengukuran
Memilih level model
Memilih komponen
dasar baban kerja
Menentukan
ketersediaan data yang
dibutuhkan
Memilih parameter yang
digunakan dalam
komponen karakteristik
beban kerja
Defenisi kriteria untuk
evaluasi representasi
model
Tanggal :
Lokasi :
Susun!
BAB 3 PERMODELAN DAN BEBAN KERJA - HAL 12 DARI 14
ANALISIS KINERJA SISTEM
(alat ukur) yang akan digunakan. Bagan ini menunjukkan bahwa beban kerja
memiliki sifat hypothetically.
Ilustrasi Desain dan implementasi dari eksekusi model beban kerja :
Tanggal :
Lokasi :
Susun!
BAB 3 PERMODELAN DAN BEBAN KERJA - HAL 13 DARI 14
ANALISIS KINERJA SISTEM
Model beban kerja dapat terdiri dari satu set komponen (program, langkahlangkah
pemrograman dan seterusnya) atau dapat juga monolitic (gabungan
intruksi tertentu)
Implementasi model beban kerja dilakukan dalam 3 tahap :
1. Tahapan Formulasi
• Amat populer dan paling banyak diaplikasikan.
• Terdiri dari jalur pengambilan keputusan, misalnya :
a. Tujuan menggunakan model
b. Sesi pengukuran
c. Tingkatan model
d. Komponen dasar beban kerja
e. Parameter yang digunakan
f. Kriteria untuk representasi evaluasi
2. Tahapan kontruksi
• Aplikasi terbatas dalam beberapa desain CPU saja.
• Model-model fase kontruksi terdiri dari 4 operasi fundamental :
a. Analisis parameter
b. Pengambilan nilai representasi
c. Penyeleksian metode untuk menentukan karakteristik dan
reproduksi penggabungan tersebut
d. Rekonstruksi penggabungan parameter dan model
3. Tahapan validasi
a. Eksekusi model
b. Aplikasi dari kriteria representasi
c. Modifikasi parameter
Implementasi model beban kerja :
Transformasi nilai parameter masing-masing komponen model ke dalam
model komponen yang dapat dieksekusi (executable component).
Reproduksi pada model komponen campuran dalam model beban kerja.
Executable component dari model beban kerja adalah :
• Komponen real : merupakan ekstraksi dari beban kerja yang menjadi
model dimana nilai parameter akan semakin dekat dengan ciri-ciri yang
direpresentasikan. Suatu model yang terdiri dari komponen real disebut
benchmark.
• Komponen non parametric atau kernel : komponen dengan kriteria yang
sama dengan kenyataan, terdiri dari kernel yang bukan merupakan
modifikasi parametric. Keakuratannya tergantung pada jumlah kernel yang
tersedia untuk merepresentasikan model tersebut.
• Komponen parametric atau synthetic : digunakan dalam implementasi
pada jangkauan yang luas untuk representasi komponen.
Tanggal :
Lokasi :
Susun!
BAB 3 PERMODELAN DAN BEBAN KERJA - HAL 14 DARI 14
ANALISIS KINERJA SISTEM
Prakiraan Beban Kerja Untuk Perencanaan Kapasitas
Tujuan Utama perencanaan kapasitas
Menentukan pecahan (fraction) total kegunaan kapasitas sistem beban kerja.
Kegunaan perencanaan kapasitas
Memprediksikan sejumlah kapasitas yang akan dibutuhkan untuk proses
beban kerja lebih lanjut dengan layanan dan level yang dibutuhkan.
Defenisi sistem kapasitas
• Jumlah maksimum kerja sistem yang dilakukan per satuan waktu yang
diberikan beban kerja.
• Fungsi karakteristik sumber individu, keterhubungan dan jalan yang akan
digunakannya.
• Identik dengan nilai teoritis yang disajikan pada sejumlah maksimal kerja
sistem.
Defenisi kapasitas sumber
Maksimal rata-rata dimana suatu proses sumber dibutuhkan.
Aktifitas pelaksanaan kapasitas
• Pengukuran dan analisis data dengan memperhatikan aliran beban kerja
serta konfigurasi sistem.
• Mendefiniskan layanan instalasi yang didasarkan pada syarat pemakai dan
perhitungan dari hubungan

BAB 8 AKS

BAB 8 KASUS PADA JARINGAN KOMPUTER - HAL 1 DARI 21
BAGIAN KEDELAPAN :
KASUS PADA JARINGAN KOMPUTER (OPTIMASI)
1. Defenisi
Analisia kinerja jaringan didefinisikan sebagai suatu proses untuk menentukan hubungan antara 3 konsep utama, yaitu sumber daya (resources), penundaan (delay) dan daya-kerja (throughput). Obyektif analisa kinerja mencakup analisa sumber daya dan analisa daya kerja. Nilai keduanya ini kemudian digabung untuk dapat menentukan kinerja yang masih dapat ditangani oleh sistem.
Analisa kinerja pada jaringan komputer membicarakan sifat dasar dan karakteristik aliran data, yaitu efisiensi daya-kerja, penundaan dan parameter lainnya yang diukur untuk dapat mengetahui bagaimana suatu pesan diproses di jaringan dan dikirim lengkap sesuai fungsinya.
Analisa Kinerja jaringan komputer dapat didefinisikan sebagai penelitian kuantitatif yang terus menerus terhadap suatu jaringan komunikasi dalam urutan kerja yang tetap berada dalam fungsinya (Terplan, 1987) agar :
a. Dapat menyempurnakan level layanan pemeliharaan.
b. Dapat mengenali potensi kemacetan
c. Dapat mendukung pengendalian operasional jaringan, admunistrasi dan merencanakan kapasitas
Administrasi jaringan membantu langkah analisa kinerja dalam usaha mengevaluasi kemampuan layanan pada konfigurasi tertentu, selanjutnya akan mendefinisikan indikator kinerja yang penting, merekomendasikan prosedur pelaporan kinerja dan menentukan antarmuka manajemen basis data.
2. Kategori dan Tujuan
Kategori :
1. Analisis kinerja dengan tujuan Optimalisasi Sistem dalam layanan yang cepat, tepat dan akurat.
2. Analisis kinerja dengan tujuan Optimalisasi Sistem dalam bidang keamanan sistem, data dan informasi, yang sering dikenal dengan istilah Penetration Test yaitu dengan cara melakukan penyelidikan terhadap sistem dari sudut pandang si penyerang. Tujuan utamanya adalah untuk mengidentifikasi temuan dan resikonya sebelum mencari suatu solusi.
3. Analisis Hybrid, analisis keseluruhan terhadap berbagai potensi sistem yang dapat ditingkatkan kinerjanya dengan tujuan evaluasi dan pengembangan sistem.
Susun!
Tanggal :
Lokasi :
ANALISIS KINERJA SISTEM
BAB 8 KASUS PADA JARINGAN KOMPUTER - HAL 2 DARI 21
3. Parameter Kinerja Jaringan
Kriteria penting dari sudut pandang pemakai jaringan adalah keandalan, yaitu kriteria pengukuran seberapa mudah suatu sistem terkena gangguan, terjadi kegagalan atau beroperasi secara tidak benar.
Keandalan adalah ukuran statistik kualitas komponen dengan menggunakan strategfi pemeliharaan, kuantitas redudansi, perluasan jaringan secara geometris dan kecenderungan statis dalam merasakan sesuatu secara tidak lenagusng tentang bagaimana suatu paket ditansmisikan oleh sistem tersebut. Kinerja jaringan dapat diukur berdasarkan kriteria Terplan (1987) :
1. Kriteria level pemakai (user level), yaitu waktu respon dan keandalan.
a. Waktu respon yaitu waktu tanggapan saat paket dipancarkan dengan benar.
b. Keandalan yaitu suatu keadaan yang dapat menentukan seberapa berfungsinya sistem pada suatu tugas pengiriman paket.
2. Kriteria level jaringan (network Level), yaitu waktu respon rata-rata.
Penentuan waktu respon rata-rata dilakukan dengan 2 langkah, yaitu :
a. Menentukan rata-rata penundaan satu jalur paket melewati jaringan dan antar mukanya sebagai suatu fungsi beban terhadap ukuran paket.
b. Menggunakan informasi dengan penundaan dan pemakaian link untuk menghitung waktu respon rata-rata pemakai.
3. Kriteria kinerja khusus, yaitu daya kerja dan penundaan rata-rata.
3.1. SNMP
Suatu jaringan komunikasi (termasuk jaringan komputer) tidak bisa dikelola bila indikator kinerjanya tidak dapat dipantau dan diukur dengan tepat. Salah satu syarat utama rancangan jaringan adalah menetapkan level layanan pemeliharaan untuk memuaskan pengguna sebagai basis analisis kinerja. Indikator kinerja haruslah dapat menunjukkan keadaan kinerja jaringan yang dipantau. Contoh suatu indikator kinerja adalah aplikasi SNMP (Simple Network Management Protocol), yang didalamnya terdapat MIB (Management Information base) yaitu struktur database variabel elemen jaringan yang dikelola yang dikelompokkan berdasarkan parameter layanan dan parameter efisiensi.
A. Parameter Layanan
Merupakan suatu ukuran yang berorientasi pada pelayanan jaringan dan lebih mempertimbangkan minat pemakai. Parameter ini mengontrol dan merencanakan ketersediaan jaringan yang terdiri atas :
Susun!
Tanggal :
Lokasi :
1. Parameter Ketersediaan
ANALISIS KINERJA SISTEM
BAB 8 KASUS PADA JARINGAN KOMPUTER - HAL 3 DARI 21
Availibilitas fungsi jaringan adalah presentasi waktu pengguna terhadap akses total layanan jaringan yang tersedia baginya, yang amat tergantung pada keandalan komponen secara teknis. Parameter ini tidak diukur secra langsung, tapi dihitung menggunakan data indikator kinerja (terplan, 1987) yang terdiri dari :
- Overall network availability, ketersediaan jaringan secara menyeluruh, diambil dengan mengumpulkan data dari beberapa simpul jaringan yang penting.
- Line availability, ketersediaan jalur jaringan, mengukur ketersediaan simpul menerima dan meneruskan paket/frame informasi dari simpul ke simpul dan menginformasikan paket-paket yang diabaikan karena keterbatasan sumber daya (In/OutDiscard) selama pemantauan (SysUpTime).
- Customer level availability, ketersediaan pada level user, diukur dari data pemakaian terminal atau simpul terminal.
2. Parameter waktu respon
Indikator waktu respon (terplan, 1987) terdiri dari :
- Network delay, penundaan pada jaringan.
- Host delay, penundaan pada host dan simpul jaringan, menetapkan lama penundaan waktu dalam komputer pusat untuk suatu paket sampai ke komputer tujuan.
- Waktu respon rata-rata
- Waktu respon maksimal, menetapkan harga maksimum lamanya suatu paket/datagram diizinkan dalam suatu jaringan.
- Waktu respon minimal
- Alternatif pada level user : daftar pertanyaan
Besarnya nilai waktu respon dapat dipantau dengan cara memanfaatkan aplikasi ping yang mengirimkan datagram echo-request dari protokol ICMP untuk mendapatkan datagram echo-respon dari suatu simpul jaringan.
3. Parameter keandalan
Indikator keandalan (reliabilitas) terdiri dari :
- Jumlah failure pada elemen jaringan, memberitahukan suatu gateway tertutup untuk dilewati..
Susun!
Tanggal :
Lokasi :
- Daftar tindakan pada kesalahan yang paling sering terjadi.
- Jumlah pesan-pesan yang hilang.
- Jumlah pesan yang harus diduplikasi.
- Jumlah pesan yang tiba, tetapi tidak disampaikan.
- Jumlah pesan yang menyatakan kiriman telah diterima.
- Jumlah transmisi ulang.
- Jumlah time out, waktu yang tidak terpakai karena idle.
- Jumlah transmisi yang tidak lengkap.
ANALISIS KINERJA SISTEM
BAB 8 KASUS PADA JARINGAN KOMPUTER - HAL 4 DARI 21
B. Parameter Efisiensi
Merupakan ukuran kinerja yang mementingkan bagaimana informasi bekerja secara efisien dan ukuran daya kerjanya.
Daya kerja (throughput) dalam bit per detik, didefinisikan sebagai rata-rata lewatnya bit data pada simpul jaringan tertentu per satuan waktu. Pada jaringan kondisi tetap, kecepatan masuk dan keluarnya paket adalah sama, maka daya kerja adalah harga rata-rata bit per detik tiap memasuki atau meninggalkan jaringan. Indikator parameter daya kerja menurut terplan (1987) terdiri dari :
• Transmit, terdiri dari : jumlah transaksi, jumlah paket, jumlah pesan, jumlah karakter, pesan terpanjang dan rata-rata panjang pesan yang dipancarkan.
• Receive, terdiri dari : jumlah transaksi, jumlah pesan, jumlah paket, jumlah karakter pesan terpanjang dan rata-rata panjang pesan yang diterima.
• Polling, terdiri dari : jumlah pool positif, jumlah pool negatif dan jumlah pool penundaan.
• Utilization, terdiri dari : utilisasi pengendalian komunikasi (pemanfaatan protokol IP, ICMP, TCP, SNMP), pengendalian cluster (pada protokol IP) dan utilisasi peralatan terminal
• link idle, memantau hubungan yang tidak terjadi antara simpul jaringan pada saat tertentu.
• link utilization, memantau hubungan yang terjadi antara simpul jaringan pada saat tertentu.
• Contention, memantau terjadinya ‘tabrakan’ pada fungsi perangkat (keras dan lunak) jaringan dan elemen jaringan.
3.2. QoS (Quality of Service)
Kinerja jaringan diukur dengan metode quality of services (QoS). Pesan yang diharapkan adalah kualitas tinggi dengan menggunakan biaya yang rendah.
QoS jaringan dapat dikarakteristikkan pada 5 pengukuran dasar (Coombs and Coombs, 1998):
• Ketersediaan Jaringan (Network availability), rendahnya waktu downtime.
• Kinerja yang berhubungan dengan kesalahan (Error performance)
• Kehilangan transmisi (kemacetan) dari dua jaringan yang bertukar data.
Susun!
Tanggal :
Lokasi :
• Waktu yang dibutuhkan untuk membuat koneksi
• Kecepatan deteksi kesalahan dan memperbaikinya.
ANALISIS KINERJA SISTEM
BAB 8 KASUS PADA JARINGAN KOMPUTER - HAL 5 DARI 21
Proses komunikasi pada suatu jaringan komputer dilakukan dengan memanfaatkan protokol-protokol tertentu. Ada beberapa jenis protokol yang sering digunakan untuk LAN yaitu Ethernet (mencakup fast dan gigabit ethernet), token ring, FDDI, ATM untuk wide area network (yang meliputi leased line, x.25, frame relay dan sebagainya).
Proses pengukuran kinerja suatu jaringan komputer ini dilakukan dengan mengukur sejauh mana protokol yang digunakan tersebut dapat dipatuhi dengan sepenuhnya dalam sistem jaringan yang menerapkannya. Maka dari itulah metode yang digunakan dalam mengukur amat tergantung bagaimana implementasi protokol yang digunakan.
Susun!
Tanggal :
Lokasi :
Pedoman pengukuran Kinerja sistem Ethernet :
Parameter
Digunakan untuk mengindikasikan
Petunjuk
Utilization %
Network (kemacetan pada media transmisi)
<40% sustained utilization <70% peak (1 detik)
Frame Rate
Kemacetan pada Device
Device yang saling berhubungan (biasanya <5000 frame/detik)
Packet Deferral Rate
Network (kemacetan pada media transmis)
<10% dari Frame Rate
Rate kesalahan (Error Rate)
Runts
frame yang mengalami tabrakan (Collision) , kesalahan pada NIC
Harusnya tidak ada, kecuali collision-related
Jabber (Giants)
Kesalahan pada NIC, kesalahan konfigurasi router
Tidak ada
Frame dengan Bad FCS
Gangguan listrik, fragmentasi collision
Tidak ada, kecuali collision-related
Frame yang tidak saling berhubungan
Fragmentasi collision, kesalahan NIC
Tidak ada, kecuali collision-related
Broadcast, Rasio Frame Multicast
Kesalahan konfigurasi router, node atau aplikasi
Network-dependent (generally <20 to 30 per second)
Distribusi Protokol
Per Frame
Penggunaan bandwidth
Tergantung pada aplikasi
ANALISIS KINERJA SISTEM
BAB 8 KASUS PADA JARINGA
N KOMPUTER - HAL 6 DARI 21 ANALISIS KINERJA SISTEM
devais interkoneksi oleh aplikasi
Network-nya
Per Kbyte
Penggunaan bandwidth jaringan (media transmisi) oleh aplikasi
Tergantung pada aplikasi Network-nya
Distribusi ukuran Frame
Efisiensi aplikasi jaringan
Tergantung aplikasinya (biasanya frame yang besar membuat jaringan lebih efisien)
Top Talkers
Per frame
Penggunaan bandwidth devais interkoneksi oleh node
Tergantung jaringannya
Per Kbyte
Penggunaan bandwidth jaringan (media transmisi) oleh node
Tergantung jaringannya
Deskripsi untuk setiap parameter :
• Rasio Collision. Collision adalah suatu kejadian reguler yang terjadi manakala dua atau lebih usaha untuk meneruskan media terjadi pada waktu yang sama. Manakala suatu collision terjadi, pengiriman node akan me-'rasa'-kan collision, kemudian melaksanakan suatu time out acak dan kemudian melakukan retry. Ketika jaringan menjadi terisi penuh dengan frame, semakin banyak collision akan terjadi. Nilai collision yang tinggi juga dapat disebabkan oleh kesalahan adapter atau node yang out-of-control dalam menghasilkan frema yang memenuhi jaringan itu.
• Packet deferral rasio. ini terjadi manakala setiap node berusaha untuk memancarkan frame dan merasakan node yang lain telah siap memancarkan ( yaitu adanya carrier yang berfungsi 'merasa' pada suatu media). Node harus menunda, atau menunggu sampai jaringan kosong, sebelum dapat meneruskan transmisi itu. Nilai suatu paket Deferral adalah suatu statistik seringnya usaha suatu node untuk masing-masing port Ethernet. Tidaklah mungkin untuk mengukur nilai paket deferral dengan suatu penganalisis protokol atau alat test lain.
• Runts(=kerdil). Jika frame yang ada lebih pendek dibanding 64 bytes, dan itu biasanya merupakan kesalahan pada suatu jaringan Ethernet. Frame ini dapat merupakan hasil collision pada jaringan, atau bisa merupakan suatu tanda bahwa suatu node sedang menghasilkan frame pendek tanpa melakukan padding sampai 64 byte, sebab seringkali frame tersebut menjadi terlalu pendek untuk meliputi suatu alamat tujuan sumber. Frame ini sangat sukar untuk berhubungan dengan node-node tertentu lainnya.
Susun!
Tanggal :
Lokasi :
BAB 8 KASUS PADA JARINGAN KOMPUTER - HAL 7 DARI 21
• Jabbers. Frame yang lebih panjang dari 1518 bytes dan dapat menyebabkan kesalahan dalam jaringan ethernet. Frame Jabber sering disebut juga "Giants(=raksasa)". They are usually the result of a node generating frames outside
• Frame Bad FCS. Terdiri dari suatu bagian yang memeriksa urutan frame yang tidak memenuhi hitungan checksum ketika frame diterima. Frame dengan bad FCS berisi satu atau lebih kesalahan bit dan biasanya telah dibuang oleh node yang yang menerima itu. Bit kesalahan dapat disebabkan oleh noise elektrik atau kesalahan pada transceiver atau komponen sistem kabel. Collision juga dapat menyebabkan frame mempunyai Bad FCS.
• Frame Misaligned. Frame ini adalah frame yang panjang bit-nya adalah tidak dapat dibagi oleh delapan (non integer byte). Frame ini biasanya mempunyai bad FCS dan pada umumnya disebabkan oleh permasalahan elektrik pada pemasangan kabel jaringan, kesalahan pada workstation, atau akibat collision.
Susun!
Tanggal :
Lokasi :
Pedoman Pengukuran Kinerja Token Ring
Parameter
Digunakan untuk mengindikasikan
Petunjuk
Utilization %
Kebuntuan (congestion) Network (media transmisi)
<70% sustained utilization <90% peak (1 detik)
Rasio Frame
Kebuntuan pada device
Tergantung devais (biasanya <5000 frame/detik)
Rasio Head Error
Frame Ring Purge
Ring Reset; station insertion atau removal
Harus diminimalisasi
Frame Ring Beacon
Kegagalan parah NIC, media access unit (MAU) atau perkabelan
Minimize transient beacons no streaming beacons
Frame Claim Token
Ring reset; station insertion atau removal
Harus diminimalisasi
Rasio Soft Error
Isolasi kesalahan soft, kesalahan internal, kesalahan burst, kesalahan line, kesalahan abort, kesalahan recognized alamat/kesalahan copied.
Marginal timing, gangguan listrik, identifikasi alamat domain Station yang salah
Harus diminimalisasi
Non-isolasi Kesalahan
Marginal timing,
Harus ANALISIS KINERJA SISTEM
BAB 8 KASUS PADA J
ARINGAN KOMPUTER - HAL 8 DARI 21 A SISTEM
ANALISIS KINERJ
Soft, kesalahan frequensi, kesalahan frame copy, kesalahan token, kesalahan akibat kebuntuan (congestion) penerima.
Gangguan listrik tidak dapat diisolasi untuk suatu domain yang salah
diminimalisasi
Rasio Broadcast, Multicast Frame
Kesalahan konfigurasi router, node atau aplikasi
Tergantung jaringan (biasanya <20 s.d 30 per detik)
Distribusi Protokol
Per Frame
Penggunaan bandwidth devais interkoneksi oleh aplikasi
Tergantung pada aplikasi Network-nya
Per Kbyte
Penggunaan bandwidth jaringan (media transmisi) oleh aplikasi
Tergantung pada aplikasi Network-nya
Distribusi ukuran Frame
Efisiensi aplikasi jaringan
Tergantung aplikasinya (biasanya frame yang besar membuat jaringan lebih efisien)
Top Talkers
Per frames
Penggunaan bandwidth devais interkoneksi oleh node
Tergantung jaringannya
Per KBytes
Penggunaan bandwidth jaringan (media transmisi) oleh node
Tergantung jaringannya
Distribusi Routing Source
Distribusi trafik oleh source dan destination network (lokal, remote)
Tergantung jaringannya
Deskripsi untuk setiap parameter:
• Token Ring hard errors. Kesalahan pada jaringan token ring terdapat berikut ini, harus dipertimbangkan dengan keras, yaitu kesalahan :
o Frame Ring purge. Frame yang dibuat oleh Monitor aktif ketika proses claim token selesai, atau ketika token mengalami kesalahan (seringkali merupakan kehilangan frame). Tujuan suatu frame ring purge adalah untuk melakukan reinitialize ring dengan cara memindahkan setiap frame data atau token secara sirkular. ring purge adalah normal ketika stasiun dimasukkan ke dalam ring, tetapi ini cara yang tidak umum. Hitungan
Susun!
Tanggal :
Lokasi :
BAB 8 KASUS PADA JARINGAN KOMPUTER - HAL 9 DARI 21
sirkular yang lebih tinggi menunjukkan adanya masalah pada pemasangan kabel.
o Frame Ring beacon. Frame ini dikeluarkan ketika terjadi suatu kesalahan serius, seperti suatu kerusakan pada fisik kabel. Frame ini dikirim oleh suatu Stasiun ring tertentu (bisa dari semua adapter Token-Ring) yang melaporkan alamat yang aktif neighbor paling dekat tidak lagi menerima token yang harusnya dikirim oleh NAUN (Nearest Active upstream). Frame ring beacon pada umumnya menandai adanya kesalahan dalam pemasangan kabel atau adapter antara stasiun yang membangkitkan frame ring beacon dan NAUN - nya.
o Claim Token Ring. Ini adalah frame yang dikirim oleh stasiun manapun yang terdapat pada ring yang mendeteksi ketidakhadiran dari suatu Monitor Aktif baru. Tujuan dari frame claim token ini adalah untuk menyiapkan proses claim.
• Kesalahan soft Token ring. Jaringan Token Ring juga merupakan salah satu subyek kesalahan yang disebut soft errors. Istilah ini mengacu pada suatu kelas dari suatu peristiwa abnormal yang mempengaruhi hanya pada satu stasiun dan secara umum tidak berdampak pada keseluruhan operasi di ring. Kesalahan soft mencakup berikut ini :
o Isolasi kesalahan soft. dapat di-trace ke stasiun neighbor tertentu.
o Non-isolasi kesalahan soft. Tidak dapat di-trace ke stasiun neighbor tertentu.
o Kesalahan Internal. Ditemukan even yang abnormal pada suatu stasiun ketika menemukan kesalahan internal.
o Kesalahan Burst. Kesalahan ini dilaporkan oleh suatu stasiun yang mendeteksi ketidakhadiran transisi di (dalam) sinyal yang diterima ( hilangnya sinyal) untuk lebih dari dua dan one-half bit kali antara mulai dan berakhirnya pengukuran (yaitu pada frame yang diterima)
o Kesalahan Line. Frame yang dihasilkan suatu stasiun melaporkan kode yang violation pada token, ketika frame melakukan pengecekan urutan kesalahan, atau antara mulai dan berakhirnya pengukuran frame.
o Kesalahan Abort. Frame yang pada akhir pengukurannya secara langsung mengikuti awal pengukurannya, tanpa satu pun field yang dibutuhkan, ini disebut Frame abort. Kesalahan abort ini terdaftar setiap waktu observasi pada ring.
o Kesalahan A/C. Kesalahan Address Copied adalah even abnormal yang ditemukan dalam prosedur Address Recognized dan Frame yang ter-copy dalam ring. Kesalahan A/C mengidentifikasikan adanya kehadiran lebih dari satu Monitor Aktif pada ring.
Susun!
Tanggal :
Lokasi :
ANALISIS KINERJA SISTEM
BAB 8 KASUS PADA JARINGAN KOMPUTER - HAL 10 DARI 21
o Kesalahan Frekuensi. Kesalahan ini terjadi ketika clock ring dan ring secara fisik dengan clock crystal station-nya berbeda frekuensi.
o Kesalahan Frame copy. Kesalahan ini menunjukkan bahwa suatu stasiun telah mengenali alamat suatu frame, tetapi frame tersebut tidak mempunyai Alamat yang dapat mengenali Bit indikator yang di set pada 00 seperti yang biasanya dibutuhkan. Kondisi ini dapat menandai adanya suatu masalah transmisi dari stasiun pengirim, atau dapat saja hasil dari stasiun tersebut memiliki alamat duplikat.
o Kesalahan Token. Frame token error dihasilkan oleh monitor aktif untuk menunjukkan bahwa salah satu beberapa kesalahan protokol telah terjadi. Jika ada beberapa frame seperti di atas, menunjukkan bahwa suatu token atau frame tidak dapat diterima di dalam 10 mili detik. Jika token mempunyai suatu prioritas tidak nol (non-zero) dan monitor menghitung satu, ini berarti frame tersebut melalui monitor aktif sebanyak dua kali. Di dalam semua kasus kesalahan token ini seringkali mengindikasikan masalah pada pemasangan kabel atau NIC.
o Kesalahan akibat kebuntuan (congestion) penerima. Kesalahan ini menunjukkan bahwa suatu stasiun tidak mampu melakukan pengkopian suatu frame yang diarahkan keluar dari buffer dan masuk ke dalam ke dalam memori. Biasanya frame ini merupakan hasil dari stasiun yang secara parsial mengalami crash, yaitu saat frame meninggalkan interface Token-Ring tetapi menemui bahwa memori utama dalam keadaan rusak, dalam hal dimana devais harus melakukan cold-booted. Dalam kasus lain, kesalahan congestion dapat menunjukkan bahwa stasiun penerima dalam keadaan sibuk untuk menerima frame dari buffer dan sehingga terjadi suatu bottleneck, seperti yang terjadi pada token ring bridge dan router yang memiliki kinerja rendah.
o Kesalahan Lost frame. Ketika frame mengindikasikan stasiun pengirim tidak menerima bagian akhir dari frame yang tiba sebelumnya.
Susun!
Tanggal :
Lokasi :
Pedoman Pengukuran Kinerja FDDI
Parameter
Digunakan untuk mengindikasikan
Petunjuk
Utilization %
Kebuntuan (congestion) Network (media transmisi)
<80% sustained utilization <90% peak (1 detik)
Rasio Frame
Kebuntuan pada devais
Tergantung devais
ANALISIS KINERJA SISTEM
BAB 8 KASUS PADA JARINGAN KOMPUTER - HAL 11 DARI 21
Rasio Head Error
Frame Clain
Ring reset; station insertion atau removal
Harus diminimalisasi
Frame Beacon
Ring reset; station insertion atau removal
Harus diminimalisasi
Rasio Soft Error , Frame yang panjang, informasi awal yang pendek, E-flag set, violation, frame bad FCS
Marginal timing, gangguan listrik (pada TP/PMD copper ring)
Harus diminimalisasi
Broadcast, Rasio Multicast Frames
Misconfigurasi router, node atau aplikasi
Tergantung jaringannya (umumnya <20 to 30 per detik)
Distribusi Protokol
Per frames
Penggunaan bandwidth devais interkoneksi oleh aplikasi
Tergantung pada Network dan aplikasi
Per Kbytes
Penggunaan bandwidth jaringan (media transmisi) oleh aplikasi
Tergantung pada Network dan aplikasi
Distribusi ukuran Frame
Tergantung pada aplikasi (umumnya frame yang lebih besar lebih efisien dari pada frame yang kecil)
Top Talkers
Per frame
Penggunaan bandwidth devais interkoneksi oleh node
Tergantung jaringannya
Per Kbyte
Penggunaan bandwidth jaringan (media transmisi) oleh node
Tergantung jaringannya
Ring State LEM reject count, LEM count, SMT transmit frames, ring op count
Ring reset; Kesalahan transmisi
Harus diminimalisasi
Waktu Rotasi Token
Waktu akses Media
Tergantung jaringannya
Tanggal :
Lokasi :
Susun!
Deskripsi untuk setiap parameter:
ANALISIS KINERJA SISTEM
BAB 8 KASUS PADA JARINGAN KOMPUTER - HAL 12 DARI 21
FDDI Hard Error. Meliputi :
• Frame Beacon. Frame ini dikirim oleh stasiun FDDI ketika mereka berhenti menerima frame dan token dari neighbor upsteram-nya. Ketika suatu stasiun menerima frame beacon dari neighbor upstreamnya, mereka akan menghentikan pengiriman beacon mereka sendiri, sampai stasiun upstream tersebut melaporkan alamatnya. Perhitungan dalam bidang ini pada umumnya menunjukkan kesalahan pada pemasangan kabel atau kesalahan pada adapter antara stasiun yang membangkitkanframe beacon dan neighbor upstream-nya.
• Frame Claim. Frame ini dikirim oleh setiap stasiun yang sedang menyisipkan frame ke dalam ring, atau yang sedang mengeluarkan frame dari ring, dan belum menerima suatu token atau frame di dalam suatu waktu tertentu, atau stasiun yang telah mendeteksi suatu Rasio bit-error yang tinggi. Frame claim juga dikirim manakala suatu stasiun hendak mengirimkan frame lebih sering dibandingkan dengan waktu rotasi token yang telah disepakati. (Token Rotation Time (TRT)).
FDDI Soft Error. meliputi :
• Frame Bad FCS. Adalah frame dengan suatu frame yang memeriksa Urutan (frame check sequence) yang tidak memenuhi checksum yang telah dihitung oleh suatu penerima tertentu. Ini pada umumnya menandai adanya suatu kesalahan pada transceiver atau komponen sistem pengkabelan.
• Violation. Ini adalah simbol yang invalid pada sublayer MAC dalam layer Data Link. Ini dapat disebabkan oleh beberapa sebab, pada umumnya adalah akibat adanya gangguan pada line, kesalahan transceiver, atau kesalahan implementasi MAC.
• E-flag set. Ini adalah bit yang sederhana pada akhir suatu frame yang diset ketika terjadi kesalahan pada frame yang diterima dari upstream neighbor, ini berarti bahwa frame check sequence tidak benar.
• Informasi awal yang pendek dan frame yang panjang. Informasi awal yang pendek atau informasi yang terdiri dari karakter yang kurang dari 14. Frame yang panjang melebihi 4500 byte spesifikasi maksimum.
Status FDDI Ring. Parameter ini meliputi :
• Ring operation count. Adalah merupakan counter operasi pada ring, dimana waktu pada ring tersebut diinisialisasikan per detik.
• Frame SMT transmit. Ini adalah jumlah frame yang menangani SMT (station management) yang dikirimkan ke network. Frame SMT digunakan untuk mengimplementasikan proses manajemen pada FDDI stasiun, yaitu proses monitoring dan pelaporan operasi yang dilakukan protokol FDDI.
Susun!
Tanggal :
Lokasi :
ANALISIS KINERJA SISTEM
BAB 8 KASUS PADA JARINGAN KOMPUTER - HAL 13 DARI 21
• Link Error Monitor (LEM) count. Ini adalah perhitungan even-even yang abnormal yang berhasil diobservasi pada link FDDI.
• LEM reject count. Ini adalah perhitungan waktu jumlah link FDDI yang mengalami reset, biasanya disebabkan oleh tingginya link error.
• Waktu Rotasi Token (Token Rotation Time (TRT)). Ini adalah waktu aktual yang dibutuhkan oleh token FDDI untuk bersirkulasi dalam ring. Biasanya dalam nanosecond.
Pedoman Pengukuran Kinerja Wide Area Network
WAN pada umumnya :
Tipe
Kecepatan
Biaya
Kelebihan
Private Leased Line
56 Kbps - 45 Mbps
end user control yang dapat di-customize
X.25
up to 64 Kbps
medium
error-free, switch virtual circuit
Frame relay
up to 2 Mbps
Murah, kecepatan tinggi
1. Private Leased Line
Private leased line dapat menangani informasi berjenis video, audio, data dan manapun kombinasinya. Tidak ada pembatasan protokol yang dapat digunakan untuk transmisi data pada leased line, kecuali mereka harus kompatibel dengan kecepatan line dan penyusunan yang dipilihnya. Protokol link layer digunakan pada WAN dalam membungkus data untuk transmisi, untuk pengalamatan, membungkus urutan, pendeteksian kesalahan dan proses recovery dan beberapa tujuan lain.
WAN biasanya menggunakan beberapa teknologi di bawah ini :
• High Level Data Link Control (HDLC)
• Synchronous Data Link Control (SDLC)
• Point to Point Protocol (PPP)
• Vendor specific, proprietary.
Masalah pada WAN : untuk dapat memilih bandwidth yang tinggi yang dapat mengakomodasi puncak data throughput agar dapat melakukan pendekatan ekonomis pada setiap rata-rata data throughput.
Susun!
Tanggal :
Lokasi :
ANALISIS KINERJA SISTEM
BAB 8 KASUS PADA JARINGAN KOMPUTER - HAL 14 DARI 21
Masalah Latency pada WAN :
• Clock speed latency adalah penundaan (delay) akibat kelambatan, (relatif pada LAN yang terhubung satu sama lain (Rasio clock digunakan untuk meletakkan frame data pada jalur komunikasi. Contoh clock speed latency dari 1000 byte frame pada jalur komunikasi 64 Kbps dihitung :
Latency : (1000 bytes/64 Kbps) * (8 bits/1 byte) = 0.125 detik
• Transmission latency adalah adalah waktu tunda pada frame untuk disebarkan dari sumber ke tujuan. Itu juga merupakan suatu yang penting, terutama sekali untuk koneksi yang panjang yang menggunakan satelit link.
Total latency untuk masing-masing frame adalah latency transmisi ditambah latency kecepatan clock.
Parameter
Digunakan untuk mengindikasikan
Petunjuk
Utilization %
Kebuntuan (congestion) Network (media transmisi)
<50% sustained utilization <100% peak (1 detik)
Rasio Frame
Kebuntuan pada devais
Tergantung devais
Rasio Error /Line status signal loss, frames sync loss, yellow alarm, bipolar violation, frame slip, code violation
Kesalahan Transmisi, masalah sinkronisasi clock, kesalahan hardware.
Harus diminimalisasi
Quality of Service frame yang baik, bad frame, frame yang gagal, frame yang pendek, % frame yang baik, % frame yang salah, % informasi frame, % informasi bytes
Dampak kesalahan transmisi pada frame data pemakai; efisiensi pada data link (non-informaton bearing protocol overhead)
Minimalisasi % frame yang error; % informasi frame dan % informasi byte pada protokol dan amat tergantung pada network nya
Broadcast, Multicast Rasio, Rasio Frame
Kesalahan konfigurasi router, node atau aplikasi
Tergantung jaringan (biasanya <20 s.d 30 per detik)
Distribusi Protokol
Per Frame
Penggunaan bandwidth devais interkoneksi oleh aplikasi
Tergantung pada aplikasi Network-nya
Susun!
Tanggal :
Lokasi :
ANALISIS KINERJA SISTEM
BAB 8 KASUS PADA J
ARINGAN KOMPUTER - HAL 15 DARI 21A SISTEM
ANALISIS KINERJ
Per Kbyte
Penggunaan bandwidth jaringan (media transmisi) oleh aplikasi
Tergantung pada aplikasi Network-nya
Distribusi ukuran Frame
Efisiensi aplikasi jaringan
Tergantung aplikasinya (biasanya frame yang besar membuat jaringan lebih efisien)
Top Talkers
Per frames
Penggunaan bandwidth devais interkoneksi oleh node
Tergantung jaringannya
Per KBytes
Penggunaan bandwidth jaringan (media transmisi) oleh node
Tergantung jaringannya
Rasio Bit Error (BERT) , Rasio block error , detik kesalahan (errored seconds), detik bebas dari kesalahan (error-free seconds), severely errored seconds, menit-menit perubahan (degraded minutes), waktu tak tersedia dan tersedia
Kesalahan Transmisi
Minimalisasi Rasio kesalahan ; Maksimalisasi waktu tersedia
Deskripsi untuk setiap parameter :
• Rasio kesalahan dan parameter status line:
o Bipolar Violations (BPV) terjadi manakala dua pulsa berurutan mempunyai sampel polaritas yang sama.
o Frame Slip menandai adanya suatu yang hilang secara temporer pada sinkronisasi dalam link T1.
o Code violation (pelanggaran kode) menandai adanya suatu kesalahan dalam transmisi line kode E1 .
• Parameter Mutu Layanan Quality of Service (QoS) :
o Statistik Info frame dan non-info frame merepresentasikan rasio informasi frame pada layer data-link pada frame total.
o Statistik Info byte dan non-info byte merepresentasikan rasio informasi byte pada layer Data Link pada total byte.
• Parameter Bit Error Rate (BERT) :
o Rasio Bit error adalah rasio kesalahan bit pada total bit yang ada yang dihitung melalui pengukuran sampel interval.
o Rasio Block error adalah rasio kesalahan pada blok pada total seluruh blok yang ada yang dihitung melalui pengukuran sampel interval.
Susun!
Tanggal :
Lokasi :
BAB 8 KASUS PADA JARINGAN KOMPUTER - HAL 16 DARI 21
o Detik Kesalahan (Errored seconds) adalah total jumlah detik yang berisi sedikitnya satu kesalahan bit di dalam pengukuran sampel interval.
o Detik bebas dari kesalahan (Error-free second) adalah total jumlah detik dalam pengukuran sampel interval yang tidak berisi kesalahan bit.
o Severely errored seconds adalah banyaknya interval satu-detik ketika rasio bit error lebih besar dari 1 x 10-3 di dalam pengukuran sampel interval.
o Menit-menit Perubahan (Degraded minutes) banyaknya interval satu-menit ketika rasio bit error lebih besar dari 1x10-6 dalam pengukuran sampel interval.
o Waktu tersedia (Available time) adalah sejumlah waktu bagi sirkuit untuk bisa memancarkan data secara reliabel di dalam pengukuran sampel interval.
o Waktu tidak tersedia (Unavailable time) adalah sejumlah waktu bagi sirkuit yang tidak bisa memancarkan data secara reliabel di dalam pengukuran sampel interval.
Susun!
Tanggal :
Lokasi :
2. Parameter Kinerja X.25
Parameter
Digunakan untuk mengindikasikan
Petunjuk
Utilization %
Kebuntuan (congestion) Network (media transmisi)
<50% sustained utilization <100% peak (1 detik)
Rasio Frame
Kebuntuan pada devais
Tergantung devais
Quality of Service Unsusccesful call, permintaan reset (reset requests), restart request
Kesalahan konfigurasi, kebuntuan pada network
Harus diminimalisasi
Efisiensi % informasi frame, % informasi byte, % paket data, % paket non-data
Efisiensi pada data link (non informasi bearing protocol overhead), efisiensi network.
Minimilisasi % non informasi frame dan % non-data paket
Broadcast, Multicast Rasio, Rasio Frame
Kesalahan konfigurasi router, node atau aplikasi
Tergantung jaringan (biasanya <20 s.d 30 per detik)
Distribusi Protokol
Per Frame
Penggunaan bandwidth devais interkoneksi oleh aplikasi
Tergantung pada aplikasi Network-nya
Per Kbyte
Penggunaan bandwidth jaringan (media transmisi)
Tergantung pada aplikasi Network-nya ANALISIS KINERJA SISTEM
BAB 8 KASUS PADA JARINGAN KOMPUTER
- HAL 17 DARI 21
Tanggal :
Lokasi :
ANALISIS KINERJA SISTEM
Susun!
oleh aplikasi
Distribusi ukuran Frame
Efisiensi aplikasi jaringan
Tergantung aplikasinya (biasanya frame yang besar membuat jaringan lebih efisien)
Top Talkers
Per frame
Penggunaan bandwidth devais interkoneksi oleh node
Tergantung jaringannya
Per KByte
Penggunaan bandwidth jaringan (media transmisi) oleh node
Tergantung jaringannya
Deskripsi untuk setiap parameter :
Parameter Quality of Service (QoS) :
• Unsuccessful calls. Ini adalah parameter QoS yang menggambarkan jumlah paket yang melakukan Call Request yang tidak sesuai dengan paket yang melakukan Call Accept.
• Reset request. adalah taksiran banyaknya Paket permintaan yang dikirim. Suatu PVC selalu dalam status data transfer, maka suatu end station yang menggunakan sirkuit ini tidak ada keharusan mengirimkan paket call setup. Di sana ada prosedur set untuk memulai transfer data pada PVC, bagaimanapun yang mungkin diperlukan adalah jika suatu PVC mengalami down sebelumnya tetapi kini tersedia lagi. Prosedur ini disebut prosedur reset dan prosedur ini dimulai oleh station yang mengirimkan suatu paket permintaan reset dan menetapkan saluran yang dibutuhkan untuk me-reset dengan sejumlah saluran logis yang sesuai. Alat penghubung ( untuk menetapkan saluran) harus dalam status data transfer untuk dapat mampu menerima Permintaan reset tersebut.
• Restart request. adalah taksiran banyaknya permintaan restart yang dikeluarkan. Paket restart digunakan untuk meng-clear semua SVC dan me-reset semua PCV yang pada saat ini berada pada end station yang mengeluarkan permintaan restart. Saluran logika yang merupakan identifier dari suatu paket restart, selalu diset pada 0 yang merupakan aksi yang sama pada semua sirkuit virtual yang terpasang pada sistem tersebut. Titik penting pada prosedur restart adalah bahwa station dapat setiap waktu mengeluarkan suatu restart request untuk memulai prosedur restart pada semua saluran logis yang aktif. Kemudian prosedur restart menyediakan semua sirkuit yang terhubung, ke dalam status dikenal.
• Paket Data dan paket non-data. Parameter efisiensi ini menyatakan perbandingan paket data pada Network-Layer dengan total paket,
BAB 8 KASUS PADA JARINGAN KOMPUTER - HAL 18 DARI 21
menyediakan informasi berapa banyak paket yang benar-benar membawa data pemakai, sebagai pengawasan terhadap operasi link, penetapan dalam membatasi sirkuit virtual, dan fungsi overhead. Mengukur efisiensi dengan menghitung paket adalah sangat tepat dilakukan pada alat penghubung ( bridge dan router), yang harus membuat keputusan meneruskan paket untuk setiap paket data yang diterima, dan menetapkan spesifikasi kinerja jumlah paket yang dapat ditangani per detik. perbandingan ini dapat bertukar secara signifikan antara berbagai implementasi jaringan yang berbeda. Hal ini berarti pada konteks jaringan dasar yang paling penting, adalah ketika nilai-nilai yang diamati dilakukan secara regular pada interval waktu tertentu.
• Byte Data dan byte non-data. Rasio data byte Netwok-Layer dibandingkan pada total byte, akan menyediakan indikasi berapa banyak jaringan memancarkan byte yang merupakan data byte user, sebagai pembanding yang bertugas mengawasi mata rantai operasi, menetapkan atau meruntuhkan sirkuit virtual, dan menyelenggarakan fungsi overhead. Mengukur efisiensi oleh bytes adalah indikasi terbaik untuk mengetahui pemakaian bandwidth pada media transmisi fisik, dimana kapasitas ditetapkan dalam byte per detik. Seperti dengan menggunakan parameter paket, perbandingan ini dapat bertukar secara signifikan antara berbagai implementasi jaringan yang berbeda. Hal ini berarti pada konteks jaringan dasar yang paling penting, adalah ketika nilai-nilai yang diamati dilakukan secara regular pada interval waktu tertentu.
Susun!
Tanggal :
Lokasi :
3. Frame Relay
Hirarki Sinyal Digital
DS Level
North American Bandwidth
Voice channels
DS0
64 Kbps
1
DS1
1.544 MBps
24
DS2
6.312 Mbps
96
DS3
44.7362 MBps
672
DS4
274.176 MBps
4032
Hirarki Synchronous Optical Network (SON) :
SONET level
Maximum Bandwidth
OC1
51.84 MBps
OC2
155.52 MBps
OC3
466.56 Mbps ANALISIS KINERJA SISTEM
BAB 8 KASUS PADA JARINGAN KOMPUTER
- HAL 19 DARI 21
Tanggal :
Lokasi :
ANALISIS KINERJA SISTEM
Susun!
OC4
622.08 Mbps
Parameter
Digunakan untuk mengindikasikan
Petunjuk
CIR Utilization %
Rasio data User relatif pada comminted information rate (CIR)
<100% CIR Utilization
DE (Discard eligible)
Data yang ditandai sebagai "Discard elible"
Burst above the CIR dapat dipilih untuk dibuang oleh network
FECN, BECN
Kebuntuan pada network Frame Relay
Burst above CIR dengan kebuntuan pada FECN atau BECN dapat mengindikasikan packet loss
Rasio Frame
Kebuntuan pada devais
Tergantung devais
Broadcast, Multicast Rasio, Rasio Frame
Kesalahan konfigurasi router, node atau aplikasi
Tergantung jaringan (biasanya <20 s.d 30 per detik)
Distribusi Protokol
Per Frame
Penggunaan bandwidth devais interkoneksi oleh aplikasi
Tergantung pada aplikasi Network-nya
Per Kbyte
Penggunaan bandwidth jaringan (media transmisi) oleh aplikasi
Tergantung pada aplikasi Network-nya
Distribusi ukuran Frame
Efisiensi aplikasi jaringan
Tergantung aplikasinya (biasanya frame yang besar membuat jaringan lebih efisien)
Top Talkers
Per frames
Penggunaan bandwidth devais interkoneksi oleh node
Tergantung jaringannya
Per KBytes
Penggunaan bandwidth jaringan (media transmisi) oleh node
Tergantung jaringannya
Deskripsi untuk setiap parameter:
Parameter Trafik dan Kebuntuan (congestion) :
• Persentasi Utilization Commited Information Rate (CIR) menghadirkan data throughput dari suatu partikular Data Link Connection Identifier ( DLCI) pada suatu saluran. Statistik ini dapat
BAB 8 KASUS PADA JARINGAN KOMPUTER - HAL 20 DARI 21
memberikan bantuan yang baik manakala optimalisasi atau re-konfigurasi jaringan frame relay.
• Discard Eligibility (DE) adalah suatu mekanisme frame relay yang mengijinkan sumber arus data ke frame yang diprioritaskan, hal ini menandakan aliran tersebut dapat saja menjadi di-discard pada even kebuntuan jaringan. Jika bit DE dari suatu frame di set 1, frame menjadi kandidat untuk di-discard.
• Forward Explicit Congestion Notification (FECN) adalah bit flag yang mengatur aliran frame relay yang digunakan untuk memberitahu node penerima bahwa telah datang kebuntuan jaringan.
• Backward Explicit Congestion Notification (BECN) adalah suatu bit flag yang mengatur aliran frame relay yang digunakan untuk memberitahu node pengirim bahwa kebuntuan jaringan terjadi pada path outbound. Respon yang diambil adalah bahwa sistem akan mengurangi rasio frame yang masuk ke dalam jaringan.
Pengujian Kinerja Network
Kinerja jaringan dari perspektif pemakai didapatkan dari pemikiran ketika derajat untuk suatu jaringan dengan sepenuhnya tak kelihatan (invisible), seolah-olah pemakai secara langsung dihubungkan dengan semua sumber daya dan dapat memilih untuk mengaksesnya. Hal ini dapat digambarkan sebagai reliabilitas, availbilitas, data througput, error rate, waktu respon, kinerja aplikasi, atau banyaknya jalan lain yang berbeda.
Modelling Traffic in Network
• Self similar model
• Queueing model
• Stochastic Petri Nets
2. Pengujian Keamanan atau Penetration Test
Sangat sulit untuk memisahkan test ini menjadi bagian-bagian yang mudah dijabarkan sebab test ini seringkali saling bersilang dan saling berkaitan, informasi yang didapat pada tahap-tahap terakhir seringkali akan diolah kembali menjadi petunjuk bagi teknik-teknik tahap awal. Namun demikian, test ini dapat dijabarkan sebagai berikut :
a. Akuisisi Sasaran ( Target Acquisition )
Dimulai dengan mendapat alamat IP lalu akan menempatkan sasaran tersebut dalam dunia logic, menetapkan batasan dimana di dalamnya test akan dilakukan. Hal ini mencakup :
• pengecekan data flow
• Riset sumber terbuka untuk memastikan bahwa apa yang dilihat oleh dunia luar terhadap sasaran ini. (mengidentifikasi titik-titik
Susun!
Tanggal :
Lokasi :
ANALISIS KINERJA SISTEM
BAB 8 KASUS PADA JARINGAN KOMPUTER - HAL 21 DARI 21
akses alternatif menuju sasaran, seperti misalnya alamat-alamat IP yang berhubungan serta alamat milik pihak ke tiga yang berhubungan dengan sasaran)
b. Penilaian Kerentanan ( Vulnerability Assesment )
Ini adalah prosedur pencarian dengan intensitas tinggi untuk mengidentifikasi kemungkinan titik-titik lemah dalam pemetaan ( Topologi ) sistem. Sebagai contoh menggunakan :
• Data flow yang tidak di blok, seperti FTP, yang memungkinkan untuk serangan kode biner ( Pemrograman )
• Bugs software dalam sistem oprasi komputer dan dalam hardware komunikasi yang memungkinkan akses non-standar
• Serangan langsung terhadap sistem, sebagai contoh buffer overflows.
• E-Mail
c. Eksploitasi Kerentanan ( Vulnerability Exploitation )
Pada tahap inilah kemahiran dalam rekayasa sistem, pemrograman dan sistem hacking menjadi benar-benar penting. Semua informasi yang dikumpulkan pada tahap 1 & 2 akan memberikan kemungkinan kepada tim untuk menembus rintangan sekitar sasaran dan benar-benar masuk ke dalam logic yang sungguh-sungguh ada yang merupakan sistem target. Hal ini termasuk serangan-serangan pada tuan rumah pada sistem zona non-militer ( Demiliterised Zone )
d. Laporan tertulis ( Report Writing )
Laporan harus dapat memberikan sebuah garis dasar untuk melakukan test-test dimasa datang dan sebagai dokumen kontrol perubahan ( Change Control Document ) ketika menata kembali IT dan sistem komunikasi yang terkait. Akan ada dua dokumen :
.. Yang pertama ringkasan manajemen yang memberikan gambaran temuan, dengan detil pada isu hukum, dampak bisnis, dan resiko manajemen.
.. Yang kedua adalah temuan-temuan mendalam, kejadian serangan demi serangan dengan saran-saran yang sesuai untuk setiap serangan tentang bagaimana untuk memecahkan setiap isu. Contoh dari dokumen semacam itu tersedia sesuai dengan permintaan.
Susun!
Tanggal :
Lokasi :
ANALISIS KINERJA SISTEM

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Blogger Theme by Lasantha - Premium Blogger Templates | Affiliate Network Reviews